Connect with us

Accounting

Short Term Financing Schemes – Skema Pendanaan (Pinjaman/kredit) Jangka Pendek

Published

on

Short Term Financing SchemeHaving run-out of cash is critical situation that needs critical yet intelligent reaction from company’s management. One of the effective solution for such financing is a short term financing scheme. Borrowing money is positive corporate strategy. It helps the company to increase its growth, finance seasonal slowdowns, and invest in opportunities that will ensure its future. However, while the proper financing strategy will support these objectives, the wrong financing strategy will make what otherwise would be excellent corporate programs vulnerable to failure. Business and our global economy are very dynamic. They are constantly changing, and the rules are always being redefined. Therefore, financing strategies must also be dynamic. What was appropriate for the company six months ago may be very undesirable now. So, like most other aspects of the business, the company’s financing requires constant monitoring and revision. Those members of the management team who are responsible for marketing, operations, human resources, and technology have no direct responsibility for the company’s relations with the financial community, although in a smaller company they may participate in this process when a major project is involved. All senior executives of public companies will be called upon to answer questions posed by stockholders and the financial community. Every major project of the company will ultimately be affected by the existence, form, and quantity of the financing that the company secures. Budgets are expanded and people are hired because of new financing. Budgets and headcounts are reduced when financing is not obtained or the terms are onerous.

Menentukan strategy pendanaan perusahaan sangatlah critical, tidak semua perusahaan mampu mendanai aktifitasnya menggunakan modal sendiri. Bahkan perusahaan conglomeration-pun masih membutuhkan pendanaan pihak luar untuk banyak aktifitasnya. Kita semua tahu, dibalik kenikmatan kas yang kita terima dari pinjaman atau bentuk credit lainnya, ada cost yang harus ditanggung, dan itu memang tidak bisa dihindari. Tetapi dalam kondisi kehabisan kas, kita memang tidak mempunyai banyak pilihan selain memanfaatkan pendanaan dari pihak luar. Maksimal yang bisa dilakukan adalah mencari berbagai pilihan sebanyak mungkin, guna memperoleh scheme yang paling ringan untuk perusahaan.

Advertisement

Untuk itu, di artikel ini, saya akan post berbagai pilihan pendanaan yang mungkin bisa digunakan oleh perusahaan-perusahaan, dilengkapi dengan penjelasan-penjelasan yang saya anggap perlu untuk diketahui yang mudah-mudahan bisa menjadi bahan pertimbangan yang cukup.

Perlu diketahui “main issues” yang akan mempengaruhi financing scheme, yaitu:

  1. Maturity Cost
  2. Conditions and restrictions
  3. Payment schedule
  4. Collateral

Ada dua macam pendanaan yang bisa diambil, yaitu: debt (beban) and equity (permodalan).

Mari kita bahas satu persatu, saya akan mulai dengan skema pendanaan yang menggunakan alternative “beban (debt)” terlebih dahulu.

Debt (Beban) Financing

Working Capital LoansPerusahaan yang menggunakan pinjaman sebagai alternative pendanaan, bisa memilih apakah menggunakan pinjaman jangka pendek (short term loans) atau jangka panjang (long-term loans). Pinjaman jangka pende (short-term loans) berumur satu tahun atau kurang. Ini biasanya dipilih untuk memenuhi kebutuhan kas periode berjalan. Pinjaman berjangka waktu pendek lebih cocok untuk modal kerja, itulah sebabnya mengapa pinjaman jangka pendek ini sering disebut sebagai “working capital loans. Long-term loans memiliki umur yang lebih panjang dari satu tahun. Perusahaan menggunakan pinjaman jangka panjang jika perusahaan menganggap perlu melakukan penambahan modal yang besar, atau untuk mendanai project yang sifatnya jangka panjang juga.

Pada artikel (posting) kali ini saya akan berfocus pada short term loan scheme (pinjaman berskema jangka pendek) terlebih dahulu.

Berikut ini adalah berbagai jenis short-term loans:

[1]. Accounts Receivable Financing

Ini adalah model (scheme/bentuk) pendanaan yang paling excellent bagi perusahaan yang telah memeiliki piutang (account receivable) akan tetapi belum jatuh tempo, sementara perusahaan membutuhkan cash yang sifatnya segera. Model ini melibatkan sebagian atau keseluruhan “account receivable (piutang)” yang akan dijadikan jaminan (collateral). Mengapa ini saya katakana excellent, karena pihak pemberi pinjaman (i.e.:bank atau institusi keuangan lainnya) akan ikut terlibat mengawasi keberadaan piutang perusahaan. Bank atau pemberi pinjaman sangat mungkin akan menolak setiap tagihan (invoice) yang jatuh temponya telah melebihi 90 hari. Penolakan dari pihak pemberi kredit atas tagihan yang due datenya telah melebihi 90, secara tidak langsung merupakan advise bagi perusahaan untuk lebih ketat lagi di dalam pengelolaan piutangnya.

Besar kecilnya jumlah pinjaman yang bisa diperoleh akan sangat tergantung pada besar kecilnya nilai account receivable yang dijadikan agunan. Akan tetapi, granted rate-nya (jumlah credit yang dikabulkan) bisa mencapai 70% hingga 100% dari total nilai piutang yang diagunkan.

Perlu disadari bahwa, dengan pinjaman yang menggunakan rekening piutang (account receivable) sebagai agunan (collateral), tanggung jawab penagihan terhadap piutang yang dijaminkan tetap akan menjadi tanggung jawab perusahaan (si peminjam).

Jadwal pengembalian tentu saja bisa dinegosiasikan dengan pihak pemberi credit, akan tetapi dibutuhkan kedisiplinan perusahaan dalam memenuhi jadwal pembayaran yang telah disepakati. Mengingat ini adalah scheme credit jangka pendek, bank (atau institusi keuangan lainnya) biasanya menyediakan jadwal pengembalian yang berkisar antara 70 hingga 90 hari.

 

[2]. Factoring

Factoring adalah salah satu alternative yang boleh menjadi pertimbangan utama dalam rangka memperoleh scheme pendanaan segera. Scheme ini menyerupai account receivable financing. Akan tetapi perbedaannya sungguh mendasar. Pada “factoring” model, account receivable di jual (bukan dijadikan agunan). So pada dasarnya ini bisa dianggap bukan sebagai credit scheme, lebih merupakan solution.

Perlu disadari bahwa, nilai cash yang bisa diperoleh dari scheme ini akan sangat tergantung pada kwalitas piutang yang akan dijual karena pihak pembeli (i.e.: bank or independent factoring company) akan menanggung semua resiko piutang tak tertagih yang akan timbul. Untuk menutup potensi resiko tersebut, biasanya pihak pembeli akan meminta harga yang lebih kecil dibandingkan nilai piutang yang akan dijual.

Satu hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memperoleh alternative ini, adalah dampak psikologis dan image perusahaan di mata customers-nya. Jika semua piutang dijual, sangat mungkin di dalamnya terdapat piutang pada customer yang masih sehat. Hal ini akan menimbulkan tanda tanya besar dipihak customer mengenai kondisi keuangan perusahaan. Sangat mungkin customer akan berpikir ”ada apa dengan perusahaan ini?, apakah mereka akan bangkrut?”. Dampak lainnya, adalah sangat mungkin pihak ”factoring company” akan melakukan tindakan penagihan yang berlebihan kepada customer perusahaan yang sangat berharga. Karena memang factoring company misinya adalah menagih piutang sebisa mungkin, jika perlu mereka akan melakukan tindakan penagihan yang berlebihan.

Best practice tips:

  1. Factoring bisa merupakan cost yang mencapai kisaran 2 hingga 5 percent per bulan. Ini bisa jadi merupakan factor pengurang margin yang significant bagi perusahaan yang mentargetkan margin yang rendah (10-15%). Ini kurang sesuai bagi retailer atau perusahaan sejenis yang menerapkan low margin calculation. Akan tetapi jika termin penjualan adalah 2/10; n/30 atau n/60 atau yang lebih lama lagi, maka factoring adalah alternative yang cukup menarik bagi perusahaan.
  2. Adalah dianjurkan untuk melakukan analisa umur piutang (ageing receivable) yang memadai sebelum melakukan penjualan account receivable. Bandingkan dengan account receivable credit (alternative1 di atas), mana costnya yang lebih kecil, jangan lupa dampaknya terhadap customer. Akan sangat bagus jika perusahaan menggunakan factoring scheme hanya untuk account receivable yang due date-nya di atas 30 hari.
  3. Factoring biasanya menawarkan alternative “re-coursing” (apakah perusahaan akan menyediakan penggantian jika ada piutang yang tidak berhasil ditagih oleh factoring company). “Re-coursing condition” biasanya lebih menarik bagi factoring company dan memungkinkan untuk memperoleh harga penjualan piutang yang lebih bagus bagi perusahaan di satu sisi, akan tetapi juga artinya perusahaan masih akan bertanggung jawab jika ada piutang tak tertagih (bad debt).

 

Tentu saja, sebelum deal terjadi, factoring company akan melakukan survey yang ketat, terlebih-lebih jika tanpa “re-coursing” condition.

 

[3]. Inventory Financing

Inventory financing, adalah scheme pendanaan yang menggunakan inventory (raw material and finished goods) sebagai collateral (agunan). Work in Process inventory biasanya tidak diikutkan dalam perhitungan, bisa dikatakan hampir tidak ada institusi penyedia kredit menerima work in process inventory sebagai jaminan.

Besar kecilnya credit yangbisa diperoleh tergantung dari umur inventory dan kwalitas inventory secara keseluruhan. Pihak penyedia credit, biasanya akan melibatkan in-house appraisal (penilai) dari pihaknya sendiri untuk melakukan penilaian yang objective bagi inventory yang akan dijaminkan. Setelah diketahui total inventory yang dianggap qualified (memenuhi syarat) sebagai jaminan, barulah jumlah credit yang bisa dikabulkan bisa ditentukan. Biasanya akan masuk dikisaran 50% hingga 100% dari total nilai inventory yang memenuhi qualifikasi sebagai jaminan.

Ini adalah scheme (model/form) yang bagus bagi perusahaan yang membutuhkan cash (kas) dalam waktu segera dan dalam jumlah yang besar guna memenuhi modal kerja di dalam mengerjakan project atau order dari high quality customers atau kondisi lain yang memang meaksa perusahaan harus menyediakan dana dalamjumlah significant guna membiayai operasionalnya.

Perlu disadari bahwa, alternative “inventory financing” membutuhkan penerapan metode inventory control yang bagus. Seharusnya ini tidak akan menjadi big issue jika saja perusahaan selalu terbiasa menerapkan inventory control dengan disiplin dan teratur.

 

[4]. Floor Planning

Floor planning adalah scheme credit yang sangat lumrah diterapkan oleh perusahaan perusahaan retailer barang-barang bernilai jual tinggi. Misalnya: mobil, boat, motor atau barang berilai jual tinggi lainnya. Pada dasarnya pihak institusi penyedia dana (i.e.: bank atau finance company) membeli inventory (yang dibutuhkan oleh pemohon credit/pemilik shoroom) dari pabrik yang memproduksi barang tersebut. Selanjutnya pihak finance menyerahkan barang yang diminta kepada pemohon dana (pemilik showroom) untuk dipajang.

Pihak pemilik barang (perusahaan finance yang menyediakan inventory) menentukan nilai dasar barang yang harus di setor oleh pemilik showroom, nilai ini dianggap sebagai credit bagi si pemilik showroom yang akan dibayarkan pada saat barang laku dijual, tentu saja ada bunga (interest) yang harus ditanggung. Sedangkan harga jual akhir ditentukan oleh si pemilik showroom. Jika barang laku dijual, maka si pemilik showroom akan memperoleh selisih nilai antara harga dasar yang wajib disetor plus bunga dengan harga jual akhir kepada konsumen.

Financing Model

[5]. Revolving Credit

This is basically a working capital loan with accounts receivable and inventory as collateral. Nilai maksimal pinjaman yang dikabulkan akan dihitung bedasarkan suatu formula yang mengkobinasikan antara “high quality Inventory” dan “high quality accounts receivable”.

For instant:

Nilai maksimalnya mungkin 75 percent dari accounts receivable yang berumur kurang dari 60 hari dan 50 percent dari raw material dan finished good yang berumur kurang dari 90 hari. Hal ini akan mendorong perusahaan (si peminta credit) untuk secara terus menerus melakuka control yang baik terhadap account receivable maupun inventory-nya.

Walaupun terkadang institusi penyedia credit (i.e.: bank) mungkin mengijinkan scheme ini sebagai long term loans, jangan sampai terjebak. Tetap gunakan ini sebagai short term loans scheme saja. Jika tidak, maka ini bisa menjadi sesuatu yang dangerous bagi perusahaan. Akan ada masanya dimana penyedia credit meminta saldo credit harus nol. Pada saat inilah perusahaan biasanya akan mengalami kesulitan yang besar.

 

[6]. Zero-Balance Accounts

Zero-Balance Account adalah scheme credit yang sangat lumrah kita jumpai, dimana perusahaan membuka rekening bank dengan saldo nol (tanpa setoran awal).

Selanjutnya jika perusahaan menerima deposit atau pembayaran dari customer, maka uang masuk tersebut akan langsung merupakan pencicilan terhadap pinjamannya, sehingga akan mengurangi saldo pinjaman sekaligus menutup bunga pinjaman.

Setiap kali perusahaan mengeluarkan check (entah itu menarik cash atau untuk membayar supplier), nilai check yang dikeluarkan akan menambah saldo pinjaman sekaligus hutang bunga yang akan jatuh tempo.

Scheme ini sangat sesuai diterapkan oleh perusahaan yang kurang mampu mengenadlikan keuangan perusahaan, dimana pencivilan akan dilakukan dengan debt langsung setiap kali perusahan menerima pembayaran dari customernya, tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu. Dan…. Perusahaan hanya akan meminjam sejumlah yang dibutuhkan saja. Tentu saja perusahaan masih harus pintar-pintar mengalokasikan dana yang ditarik dengan cara meminjam ini hanya untuk project (pesanan) yang menguntungkan saja.

 

[7]. Lines of Credit

Line of credit” scheme ini bisa dikatakan sangat memihak kepada si peminjam. Ungkapan klise yang sering dijadikan slogan oleh bank atau penyedia credit adalah “Pinjamlah kas (uang) ketika anda belum membutuhkannya, sehingga akan tersedia begitu benar-benar dibutuhkan”. Atau dengan kata lain, reservasi credit diajukan jauh-jauh waktu sbeleum anda membutuhkannya, sehingga credit bisa dicairkan ketika saat membutuhkan itu telah tiba. Bukan berarti anda dianjurkan untuk mencari credit padahal anda tidak membutuhkannya. Credit diajukan ketika anda telah memprediksi bahwa akan ada kebutuhan cash yang tinggi (besar) dimasa yang akan yang telah ditentukan.

For Instant:

Perusahaan baru saja menandatangani sales order atau project contract yang pengerjaannya akan dimulai pada masa 6 bulan yang akan datang, so perusahaan anda sudah bisa memprediksi bahwa pada saat itu (6 bulan depan) perusahaan akan kekurangan cash. Untuk memastikan cash tersedia, maka perusahaan meminta ”lines of credit” sekarang, dengan harapan credit akan cair 6 bulan depan.

The advantages of a line of credit are:

  1. The loan is arranged at the timing of the borrower, maksudnya: credit di sediakan pada saat yang ditentukan oleh si peminjam.
  2. The funds are available; they can be used or not, at the choice of the borrower, artinya: bagaimanapun juga dana akan standby, terlepas apakah nantinya perusahaan (si pemohon credit) akan memnafaatkannya atau tidak.
  3. The company is in a position to make major purchase commitments knowing that this and maybe other financing options are available, artinya: perusahaan bisa melakukan pemesanan raw material atau segala sesuatu yang dibutuhkan dari jauh-jauh hari, sehingga barang yang dibutuhkan pasti tersedia pada saat dibutuhkan, dan dana pasti tersedia untuk menutup pemesanan raw material (barang) tersebut.
  4. It provides considerable purchase price bargaining power, pemesanan lebih awal dengan dana yang pasti tersedia, akan merupakan posisi tawar yang kuat bagi perusahaan terhadap vendor supplier.
  5. Interest payments do not begin until the funds are actually needed, beban bunga belum mulai timbul, sampai perusahaan benar-benar menggunakan credit tersebut.

 

Tentu saja ada cost yang harus ditebus untuk semua kebaikan di atas, yaitu: perusahaan (pemohon line of credit) harus membayar “reservation fee” yang ratenya biasanya berkisar 0.5 hingga 1 percent dari total pinjaman yang diajukan.

Termin pembayaran, bunga, fee, collateral (agunan) sama saja dengan bentuk (scheme) pinajaman jenis lainnya, dimana sifatnya selalu “negotiable (dapat dinegosiasikan)”.

 

[8]. Compensating Balances

Compensating balances adalah salah satu credit scheme yang biasanya disukai oleh institusi bank sebagai strategy untuk mengefektifkan pembebanan cost pinjaman, tanpa menaikkan suku bunga. “Compensating balance” adalah scheme credit dimana si peminjam diwajibkan untuk tidak menggunakan jumlah terntu dari total pinjaman, shingga akan tetap mengendap di rekening pinjaman.

For instant:

Jika perusahaan meminjam $10,000 untuk jangka 1 tahun pada suku bunga 10 percent. If, however, a 10 percent compensating balance di-syarat-kan, itu artinya si peminjam dana hanya boleh mengguanakan dana pinjaman secara efektif hanya $9,000. Maka suku bunga effective akan menjadi 11%, walaupun suka bunga yang tercantum pada akad credit hanya 10%.

So, jika perusahaan membutuhkan pinjaman fixed $10,000 maka credit yang disetujui harus bernilai $11,000.

Masih ada: loan origination fees, collateral audit fees, search fees dan fee lainnya yang tentu saja bisa dinegosiasikam seperti credit schemes lainnya.

I hope those just more than enough “short term loan scheme” resources will suit your immediately cash need. On my next post: Long Term Loans Schemes, alternative pendanaan jangka panjang yang mungkin anda butuhkan untuk mendanai project atau pesanan atau contract yang memiliki jangka waktu pengerjaan yang panjang juga, atau untuk keperluan ekspansi usaha.

1 Comment

1 Comment

  1. Wahyudi

    Jul 17, 2008 at 8:03 am

    Salah satu hal yg sangat sulit bagi kita dalam mencari pendanaan adalah dengan melakukan factoring, dan ada beberapa segi yg menjadi pertimbangannya.
    Oleh karena belum terbiasa melakukan factoring, bisa ndak ya Pak Putra atau rekan-2 sekalian memberikan saran, tip sekaligus trik apabila kita melakukannya? Thanks sebelmunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Are you looking for easy accounting tutorial? Established since 2007, Accounting-Financial-Tax.com hosts more than 1300 articles (still growing), and has helped millions accounting student, teacher, junior accountants and small business owners, worldwide.

Trending