Connect with us

Accounting

Expense Recognition – The Matching Principle

Published

on

Expense RecognitionRecording expenses is not often clear and can require considerable management judgment. This post discusses expense recognition in straightforward accounting principle be called “The Matching Principle”.

The matching principle states that all costs that were incurred to generate the revenue appearing on a given period’s income statement should appear as an expense on the same income statement. In other words, we should match expenses against revenues. Revenues are first recognized and expenses are then matched with those revenues. By doing this, the income statement contains measures of both accomplishment (revenue) and effort (expenses), thereby enabling an assessment of firm performance.

Advertisement

The matching principle is implemented in one of three ways, explained below:

 

Associating Cause and Effect

One method of implementing the matching principle is known as associating cause and effect. This implies that a clear and direct relationship exists between the expense and the associated revenue.

Associating Cause and Effect Examples:

  1. Cost Of Goods Sold : A retail store certainly cannot generate sales revenue without consuming inventory.
  2. Salespersons’ Commissions: Commissions are usually paid as a percentage of sales revenue, commission expense is tied directly to revenue.

 

Systematic and Rational Allocation

Another method used to implement the matching principle is systematic and rational allocation. Many costs cannot be directly linked to specific revenue transactions. They can, however, be tied to a span of years and allocated as an expense to each of those years.

A good example:

Depreciation Expense: Sales equipment (i.e.: Furnitures/fixtures) is essential to generate revenue. However, linking the cost of each display case, piece of furniture, and the like to specific sales transactions is difficult. Instead, the equipment’s cost is systematically allocated asdepreciation expense” to the years during which the equipment helps generate revenue.

 

Immediate Recognition

The final method of applying the matching principle is immediate recognition. Some expenditures have no discernible future benefit. In these cases, the expenditure is expensed immediately.

Examples:

  1. Office staff’s salaries
  2. Utilities
  3. Interest

6 Comments

6 Comments

  1. ekostrsn

    Aug 2, 2008 at 2:14 am

    1)Dalam penilaian inventory kita bisa memakai cost flow assumption FIFO, LIFO, AVERAGE , DOLAR value LIFO,pertanyaan saya , apakah dalam penilaian tersebut bagaimana prinsip “maching” tersebut bisa kita pahami.

    2)Mungkinkah kita bisa melihat adanya kekeliruan dalam mencatat suatu item sebagai expense atau cost, melalui laporan keuangan yang sudah dipublikasikan.

  2. Putra

    Aug 2, 2008 at 2:57 am

    @ekostrsn

    [1]. Interm with “inventory assessment”, setiap pengakuan sales (revenue) selalu diikuti oleh pengakuan inventory cost (usage) yang tercermin pada penurunan inventory ending balance. apapun inventory valuation method yang dipakai (LIFO, Average, FIFO) sepanjang inventory cost recognition selalu bisa disandingkan (matched) dengan revenue recognition-nya, maka berarti matching principle telah terpenuh, and vice versa.

    [2]. Bisa, yaitu dengan menelusuri setiap “cost/expense item” yang ada di financial statement yang terpublikasi ke general ledger dan bukti transaksinya. In short word: auditing.

  3. abdi_oke

    Aug 7, 2008 at 2:41 am

    1.Untuk penilaian cost inventory saat ini penggunaan LIFO tidak diperkenankan lagi, sehingga hanya asumsi FIFO dan Average saja yang digunakan, mengenai hal ini PSAK no.14 belum direvisi sehingga masih ada yang menggunakan LIFO. Namun kalau kita merujuk ke aturan laba fiskal yang tidak memperkenankan LIFO dan juga standar internasional IFRS yang sudah tidak menggunakan LIFO juga. Nah, mengenai masih berlakunya LIFO di PSAK mungkin ada tanggapan yang lain dari rekan sekalian.
    Mengenai prinsip matching cost revenue, setiap revenue yang masuk seharusnya ada biayanya. Dalam hal ini setiap penjualan yang didapatkan pastilah ada biaya yang muncul yaitu harga pokok barang terjual tersebut. Selain harga pokok barang terjual tersebut tentu masih ada biaya yang lain juga yang muncul karena penjualan barang tersebut namun sifatnya tidak langsung melekat pada barang terjual seperti biaya listrik, telepon yang biaya tersebut muncul demi menunjang penjualan. Jadi kalau dihubungkan dengan FIFO dan Average mungkin seperti ini:
    Ada penjualan sebesar 1000 rupiah yang kita anggap sebagai total penjualan, 1000 rupiah adalah revenue, untuk mempraktekkan matching cost with revenue berarti kita harus menemukan biaya yang tepat untuk ‘disandingkan’ dengan revenue 1000 tersebut. Yang pertama dan umumnya gampang ditelusuri adalah biaya harga pokok barang terjual tersebut, nah, disinilah pengaruh dari FIFO & Average tersebut berperan. Seperti kita ketahui bahwa metode asumsi cost yang berbeda akan menyebabkan harga pokok penjualan yang berbeda pula. Misalnya harga pokok menggunakan FIFO dari barang yang terjual 1000 tersebut adalah sebesar 600, maka 600 terhadap 1000 itu adalah salah satu bentuk matching cost with revenue. Namun perlu diingat bahwa tidak hanya 600 tersebut yang terkait dengan penjualan sebesar 1000 tersebut, masih ada biaya lain yang muncul dengan adanya penjualan tersebut. Namun 600 dianggap sebagai ‘direct cost’ terhadap 1000 tersebut.

    2.Sebuah laporan keuangan yang baik adalah yang menyajikan informasi yang diperlukan oleh penggunanya, dalam hal ini umumnya adalah investor. Namun sebuah laporan keuangan haruslah memperhatikan segi cost dan benefit dalam hal penyajiannya. Tidak mungkin semua informasi keuangan dapat dituangkan dalam laporan keuangan. Yang biasanya muncul di laporan keuangan adalah yang jumlahnya material terhadap laporan keuangan.
    Jadi dengan hanya melihat sebuah laporan keuangan, kita tidak bisa begitu saja dapat melihat suatu kesalahan yang ada. Dibutuhkan penelusuran lebih lanjut terhadap angka yang disajikan dilaporan keuangan, dan Audit adalah salah satu caranya. Sehingga kalau anda mendapatkan laporan keuangan yang telah diaudit dan ada juga laporan yang belum diaudit maka anda bisa lebih ‘percaya’ kepada laporan yang telah diaudit tesebut.
    Bagi orang yang terbiasa dengan dunia akuntansi sekalipun belum tentu dapat melihat kesalahan yang ada dengan hanya melihat laporan keuangan saja. Yang mungkin dan sering mudah untuk diidentifikasi dengan hanya melihat laporan keuangan biasanya adalah mengenai klasifikasi akun yang ada, namun mengenai wajar atau tidaknya angka akun tersebut dibutuhkan penelusuran lebih lanjut.

    Regards,

  4. satriya

    Aug 9, 2008 at 2:35 pm

    Originally Posted By abdi_oke1.Untuk penilaian cost inventory saat ini penggunaan LIFO tidak diperkenankan lagi, sehingga hanya asumsi FIFO dan Average saja yang digunakan, mengenai hal ini PSAK no.14 belum direvisi sehingga masih ada yang menggunakan LIFO.

    Regards,

    Pada tanggal 26 Februari 2008, IAI sudah mengeluarkan Exposure Draft PSAK 14, salah satu perubahan pentingnya adalah metode LIFO sudah tidak diperkenankan lagi digunakan. ED ini berlaku efektif mulai tanggal 1 Januari 2009.

    ++ SATRIYA ++

  5. Putra

    Aug 10, 2008 at 7:33 am

    @satriya – Thanks for updating.

  6. flamay

    Apr 3, 2009 at 2:04 pm

    i am trying to find a document that shows how expenses must be supported by some document. so far i have not found anything. i no longer have my igh school accounting book. can you help.

    frank la may
    flamay@juno.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Are you looking for easy accounting tutorial? Established since 2007, Accounting-Financial-Tax.com hosts more than 1300 articles (still growing), and has helped millions accounting student, teacher, junior accountants and small business owners, worldwide.

Trending