Connect with us

Accounting

Company Financing – Pendanaan Usaha

Published

on

Company Financing - TargetOn the previous post, we have talked a lot about “How To Interpret and Utilize cash Flow Statement” so you can clearly see whether you have sufficient cash to funds your business or not. Having more than sufficient cash is never a problem, so we won’t talk about how to manage a cash yet for this post. I would rather put “how to deal with “A—NOT—SUFFICIENT—FUND situation” as a more urgent topic to talk about. It does not necessarily means that managing cash is less important, not at all. Having non—sufficient—fund is not only belong to un-lucky or bankrupt business (company), it is also often happened to a company (business) which rapidly grow in short time. It is a big challenge for the management, a uniquely excitement. This situation most probably happened to those who are new in business, work less on forecasting/prediction. It is more than understandable for they put all the focus and sources for the business development, while a run out of cash never been realized. In this situation, management then needs great effort to get quick cash injection to keep following the business growth. Otherwise, they will face a fallen down on business growth (if not dead). So, it will be the main topic of this post. I believe it’s an interesting, yet useful topic to those who are just in business or financial professionals who are in financial management level that managing a rapid business growth. I will show you: How cash can run out quickly on the growth phase. What fund resources that may available in the market that you may want to put on your fund resources list. I also will post a short and simple guidance on borrowing money. Seems it will be another interesting serial that you just can’t miss.

Let’s go head to the first topic……………

Advertisement

 

How cash run-out quickly on a rapid business growth

Mengapa cash begitu cepat habis pada perusahaan yang sedang berkembang pesat? Saya yakin anda tentunya sudah pernah mendengar atau bahkan belajar tentang “Business Life Cycle (siklus hidup usaha)” pada mata kuliah “Strategic Management”. Jangan khawatir, saya akan berikan lagi outline-nya incase jika anda lupa, atau belum pernah mengethauinya samasekali (non-financial background). Mudah-mudahan outline ini bisa membangkitkan kembali ingatan anda dan dapat dipahami dengan lebih mudah.

Masih lekat diingatan saya, ketika saya di interview oleh CFO dan Vice President sebuah perusahaan dari United State untuk mengisi posisi “Controller” (di perusahaan yang sedang saya pegang). Waktu itu si vice president hanya mengajukan satu pertanyaan kepada saya, pertanyaanya begini: “Menurut anda, apa masalah keuangan yang paling sering terjadi pada perusahaan yang sedang berkembang?”. Dengan spontan saya menjawab “Non—Sufficient—Fund in the middle of the growth”. Lalu dia mulai digging in (menggali lebih ke dalam) dengan pertanyaan berikutnya “How?”. Maka mulailah saya menjelaskan mengenai business life cycle, bagaimana kas bisa habis begitu cepat, cara mengatasinya dan mencari fund resources dengan cepat di satu sisi, tetapi tanpa menimbulkan beban yang berlebihan di sisi lainnya. Tidak tanggung-tanggung, disamping harus menjelaskannya hingga mulut berbusa, saya juga diminta menunjukkannya dengan graphic, flow chart, checklist dan outline untuk dia review lebih lanjut. Tidak disangka ternyata pertanyaan tunggalnya bisa menghabiskan waktu 1 jam untuk menjawab dan menjelaskannya. Tetapi itu well paid-off, sangat bersukur, ternyata jawaban itu menjadi kunci keberhasilan interview saya saat itu.

Melihat concept Business Life Cycle (Siklus HidupUsaha), perjalanan usaha dari awal hingga akhir (walaupun diharapkan tidak ada akhir tetap pasti ada akhir), dibagi-bagi menjadi beberapa phase (fase). Dimulai dari masa “Establishment (Pendirian)”, kemudian “Growth (Pertumbuhan)”, lalu “Maturity (Kedewasaan)”, melewati “Turning Point (Titik Balik)” dan “Declining (Penurunan)”. Masing-masing masa ini memiliki typical situation atas berbagai aspect. Tetapi dalam pembahasan ini saya akan batasi pada scoop “cash/kas” saja. Bagaimana situasi kas pada masing-masing fase ini, kita bahas satu persatu…

Establishment Phase

Pada establishment phase (fase pendirian) automatis perusahaan akan banyak mengeluarkan cash untuk keperluan investasi, mulai dari company set up, plant asset purchase (pembelian aktiva tetap), installment (instalasi), renovation (renovasi), termasuk wages (upah). Semua aktifitas tersebut mengkonsumsi kas. Di sisi lainnya, perusahaan samasekali belum menghasilkan kas. Jelas cash flow statement (laporan arus kas) akan didominasi oleh “Cash Outflow”. Jikapun ada cash inflow, maka itu pasti karena adanya penambahan setoran modal dalam hal perusahaan menempatkan modalnya secara partial (bertahap).

Growth Phase

Disamping perusahaan sedang gencar-gencarnya melakukan Marketing Research (riset pemasaran) dan Product Development (perancangan dan rekayasa produk/jasa), pada growth phase (fase pertumbuhan), perusahaan juga sedang membutuhkan kas untuk mendanai aktifitas produksi, semenatara sebagian kas telah terkonsumsi pada fase pendirian untuk kgiatan investasi. Di sisi lainnya perusahaan biasanya belum menghasilkan revenue yang berujung pada realisasi kas dalam jumlah yang significant. Jikapun telah mulai ada sales, sangat mungkin akan masih tertahan di rekening piutang (account receivable), itupun nilainya tidak akan sebanding dengan tingkat kebutuhan kas untuk mendanai aktifitas produksi yang sedang mengalami peningkatan volume yang biasanya cukup significant (if not drastic).

Situasi ini membuat perusahaan kehabisan kas dalam waktu cepat. Disinilah kejelian dan ketepatan manajemen di dalam melakukan planning (forecasting and budgeting) yang di selaraskan dengan laporan arus kas (cash flow statement). Ke-kurang jeli-an bisa berakibat pada situasi dimana perusahaan mengalami kehabisan kas justru pada masa-mas pertumbuhan.

Maturity Phase

Pada fase kedewasaan, perusahaan yang sehat sudah menerima kas yang cukup untuk mendanai semua aktifitasnya, bahkan sangat mungkin perusahaan sudah mampu mendanai aktifitas investasi lanjutan, yaitu dengan melakukan ekspansi.

Declining Phase

Pada fase penurunan (declining), it’s common happened bahwa perusahaan mulai mengalami kejenuhan, dimaana revenue (then profit) mulai menurun. Tak satu perusahaan (businesspun) bisa terbebas dari fase ini. Di sini yang dibutuhkan adalah kejelian manajemen di dalam menentukan strategy selanjutnya, apakah dengan melakukan intensifikasi atau extensifikasi usaha.

So, we have known already why a rapid growth business having run-out cash quickly (particularly small and medium businesses). The next question is ” What fund resources that may available in the market” let’s talk about this…..

 

What fund resources that may available in the market

Setiap perusahaan ingin melalui setiap fase dalam siklus usaha dengan penuh kesuksesan tanpa tertunda apalagi terputus. Pertumbuhan yang usaha yang didukung oleh ketersediaan kas yang cukup, akan tetapi telah kita ketahui bahwa, bahwa hampir sebagian besar perusahaan kecil dan menengah yang mengalami perkembangan drastic secara tiba-tiba akan kehabisan kas dengan sangat cepat. Tentu ini bukan situasi yang diinginkan. Dibutuhkan langkah yang cermat sekaligus cerdas untuk bisa memperoleh tambahan kas tanpa menimbulkan beban yang berlebihan. How?

Ada beberapa pilihan langkah yang bisa diambil…tetapi untuk menghindari page load yang berat, terpaksa saya break sampai disini, akan saya lanjutkan di posting saya berikut.




Are you looking for easy accounting tutorial? Established since 2007, Accounting-Financial-Tax.com hosts more than 1300 articles (still growing), and has helped millions accounting student, teacher, junior accountants and small business owners, worldwide.

Trending