Company’s periodic income statement consists essentially of two components: revenue and expense. Revenue for the period is generally determined by applying the revenue recognition principle. According to Concepts Statement No. 5 (FASB), this principle provides that revenue be recognized when it is both realized and earned.

Advertisement

Jelas “revenue (pendapatan) diakui pada proses earning dan realisasinya terjadi”. Cara pengakuan seperti ini lah yang diistilahkan dengan “revenue recognition at the delivery time” yang akan kita bahas sebentar lagi. Cara pengakuan ini paling sering kita lakukan, apakah ini sudah tepat (sempurna?) adakah kelemahannya?, ada kah resiko-nya? bagaimana caranya menentukan apakah menerapkan pengakuan pendapatan pada saat penyerahan atau tidak?

Earning and Revenue

Sebelum ke masalah utama, perlu dipahami kedua istilah di atas dengan baik, agar tidak terjadi miss-leading, miss-understanding, miss-perception, dan miss-miss lainnya dalam melakukan pengakuan terhadap pendapatan. Saya pikir, inilah awal dari kekeliruan yang kadang mengaburkan pemahaman kita dalam menghadapi persoalan mengenai revenue (pendapatan). Apakah anda sudah benar-benar bisa membedakan kedua istilah di atas? Jika belum, silahkan teruskan dibaca, jika merasa sudah, bisa jumping ke paragraph setelahnya.

Terkait dengan revenue recognition (pengakuan pendapatan), sering kali kita campur-aduk-kan pengertian earning dengan revenue (pendapatan) apakah kedua istilah ini equal (=sepadan?)

Apa sesungguhnya yang disebut dengan earning?

Tentunya sudah sangat sering kita mendengar istilah earning, tetapi mungkin sedikit dari kita yang benar-benar memahami apa itu earning. Bisa dimengerti, karena istilah earning memang tidak berasal dari bahas Melayu, bukan juga berasal bahasa Jawa, bukan bahasa Sunda, bukan Mandarin bukan juga bahas Hokkien atau bahas suku lainnya, melainkan berasal dari bahasa Inggris

Earning adalah present participles dari kata ”earn” yang padan katanya (synonym) dari kata-kata berikut ini:

gain through applied effort or work: suatu yang diperoleh melalui suatu usaha atau pekerjaan.

transitive: receive (money) for working: penghasilan (uang) yang diperoleh dari bekerja.

Deserve: hak

Dalam accounting, earning adalah paling tepat jika disepadankan dengan kata hak, sehingga earning adalah hak yang diterima atau akan diperoleh atas penyerahan barang maupun jasa. Jika dikaitkan dengan revenue, bisa dikatakan:

Revenue sudah pasti earning, sementara earning belum tentu revenue

Dikaitkan dengan pernyataan FASB No. 5 di pembukaan tadi, maka revenue diakui pada saat earning ter-realisasi.

Metode ini yang paling sering kita pakai dalam mengakui pendapatan, dimana revenue kita akui saat barang/jasa kita serahkan. Mengapa? Karena pengakuan pendapatan bersamaan dengan timbulnya hak dan kewajiban kita sebagai seller, dimana hak atau claim kita akui pada saat kita menyerahkan kewajiban kita (barang/jasa) kepada buyer.

Cotoh:

Pada tanggal 20 December 2007, PT. Royal Bali Cemerlang menyerahkan barang dagangan berupa sport shoes sebanyak 1000 pairs, senilai Rp 100,000,000 kepada PT. Tunas Bangsa, dengan term 30 days credit.

Atas penyerahan tersebut, maka pada tanggal yang sama (20 December 2007) PT. RBC menerbitkan invoice (debit note) senilai yang sama yaitu Rp 100,000,000 dengan term 30 days credit, dan sekaligus mengakui adanya revenue (pendapatan) dengan melakukan pencatatan sebagai berikut:

[Debit]: Account Receivable PT. Tunas Bangsa = Rp 100,000,000
[Credit]: Sales (Revenue) = Rp 100,000,000

Apa arti transaksi dan pengakuan pendapatan di atas?

Artinya: atas kewajiban yang telah diserahkan (sport shoes 1000 pairs) maka, maka PT. RBC berhak atas pembayaran senilai Rp 100,000,000 yang akan jatuh tempo pada tanggal 19 January 2008.

Dengan transaksi dan pengkuan tersebut maka pada penutupan buku (31 Dec 2007), di Balance Sheet PT. Royal Bali Cemerlang akan tampak:

Di sisi asset (aktiva) Account Receivable (piutang dagang) akan bersaldo Rp 100,000,000. Sedangkan di Profit & Lost Statement (Laba/Rugi) akan ada revenue sebesar Rp 100,000,000. Lets say setelah dikurangi cost dan expense, net earning PT. Royal Bali Cemerlang menjadi Rp 30,000,000. Net Earning sebesar Rp 30,000,000 tersebut kemudian di tutup ke retained earning dan berpindah ke Balance Sheet kelompok equity. So, buku telah di tutup.

Kesimpulan sementara:

Di satu sisi PT Royal Bali Cemerlang mengakui adanya Revenue (pendapatan) sebesar Rp 100,000,000 dan di sisi lainnya mengakui adanya hak (Account Receivable) Rp 100,000,000 which is looking perfect.

Next………Bagaimana jika ….. pada tanggal 15 January 2008 ternyata PT. Tunas Bangsa mengembalikan 100 pasang sepatu? Karena setelah diperiksa ternyata barang tersebut defect (cacat), sol bawah sepatu terlepas, so total return adalah Rp 10,000,000. Bagaimana?

Saya tahu, mungkin anda ingin mengatakan:

Tinggal dibuatkan return entry (jurnal atas retur) saja

No, ini bukan masalah bagaimana membuat jurnal return. Pertanyaannya apakah cukup aman jika pengkuan atas pendapatan dilakukan pada saat barang diserahkan? Atau masih ber-resiko?

Seperti telah kita lihat bahwa pengakuan atas pendapatan tersebut secara langsung akan berpengaruh terhadap kewajiban pajak kita, berpengaruh terhadap pengakuan net earning yang juga akan berpengaruh terhadap besarnya dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham.

Perlukah dibuatkan cadangan atas return? Jika harus dibuatkan cadangan berapakah harus dibuatkan cadangan? atau bagaimana?

FASB memberikan guidelines sebagai berikut:

Revenue should be recognized at sale time only if all of the following six conditions have been met:

  1. The seller’s price to the buyer is substantially fixed at the date of sale.
  2. The buyer has paid the seller, or is obligated to pay the seller, and the obligation is not contingent on the resale of the product.
  3. The buyer’s obligation would not be changed in the event of theft or damage to the product.
  4. The buyer has economic substance apart from that provided by the seller.
  5. The seller does not have significant obligations for future performance to directly bring about resale of the product by the buyer.
  6. The amount of future returns can be reasonably estimated.

If these conditions have not been met, no revenue should be recognized until the return privilege has expired, or until all the conditions have been met (whichever comes first).

Jika saya translate (maaf saya tidak mahir bahasa Inggris, mohon dikoreksi jika ada salah):

Pendapatan diakui pada saat penjualan terjadi hanya jika keenam kondisi berikut ini terpenuhi:

  1. Secara substantif, harga barang dari penjual kepada pembeli pada saat penjualan (penyerahan) terjadi adalah pasti, alias tidak akan berubah.
  2. Pembeli telah melakukan pembayaran kepada penjual, atau telah berkewajiban untuk membayar kepada penjual, dan kewajiban tersebut tidak bergantung pada hasil penjualan kembali atas barang tersebut oleh buyer (di Indonesia kita biasa sebut dengan “Jual Putus”).
  3. Kewajiban pembeli tidak akan berubah sehubungan dengan adanya barang tercuri atau rusak.
  4. Pembeli memiliki substansi ekonomi yang terpisah dari apa yang diserahkan oleh penjual.
  5. Penjual tidak memiliki kewajiban yang significant yang membawa akibat langsung terhadap kemampuan pembeli di dalam usaha menjual kembali barang tersebut.
  6. Kemungkinan nilai retur dikemudian hari bisa diprediksikan secara logis.

Jika, prasyarat di atas tidak terpenuhi, maka pengakuan atas pendapatan sebaiknya jangan dilakukan dahulu hingga jangka waktu jaminan atas pengembalian (retur) terlewati, atau hingga prasyarat tersebut terpenuhi (yang mana saja yang bisa dipenuhi dahulu, boleh).

Tips:

So, pelajaran apa saja yang bisa dipetik dari pernyataan FASB tersebut?

Setiap penjualan hendaknya didahului oleh kontrak jual beli yang jelas, diantaranya:

  1. Penentuan hak dan kewajiban antara penjual dan pembeli sehubungan dengan barang/jasa yang akan diserah terimakan.
  2. Jaminan/garansi.
  3. Kebijakan return atas barang.
  4. Jangka waktu penerimaan return (complain).

Bagimana jika jual-beli tanpa kontrak?

Di sisi penjual:

Setidak-tidaknya cantumkanlah semacam ”disclaimer” pada salah satu bagian surat jalan (mungkin dibaliknya), misalnya:

Barang yang sudah diterima tidak boleh dikembalikan lagi”, jika ini clausal yang anda tentukan, maka revenue recognition bisa dilakukan pada saat penyerahan.

Retur atau complain dilayani selambat-lambatnya 3 hari setelah penyerahan barang”, jika ini clausal yang anda tentukan, maka revenue recognition baru bisa dilakukan pada hari ke-empat setelah barang diserahkan.

Di sisi pembeli:

Sebelum menandatangani tanda terima barang, selalu periksalah tanda terimanya, apakah ada clausal-clausal. Jika ada, baca dan pahamilah terlebih dahulu, jika ada yang tidak dimengerti, hubungi pihak penjual dan mintalah penjelasan. Mungkin saja dibalik clausal tanda terima yang biasanya memakai font yang sangat kecil-kecil, ada point yang berpotensi merugikan anda sebagai pihak pembeli.

Misalnya:

Pada tanda terima disebutkan ”Return/complain dilayani selambat-lambatnya 3 hari setelah penyerahan”. Pastikanlah waktu 3 hari tersebut adalah waktu yang masuk akal untuk melakukan pemeriksaan barang, dilihat dari ukuran, jenis, maupun volume (jumlah barang). Jika itu tidak masuk akal, maka bicarakanlah pada pihak penjual.

Don’t deny, sebagai orang accounting dan keuangan (yang seharusnya lebih memahami masalah ini) seringkali membiarkan serah-terima barang terjadi tanpa adanya official contract atau suatu disclaimer yang jelas. Yang lebih parah lagi, tidak jarang diantara kita yang mengabaikan disclaimer yang tercantum pada tanda terima barang (baik pada saat berposisi sebagai penjual maupun pembeli). Membuat disclaimer sendiri (complain dilayani paling lambat 3 hari) tetapi revenue recognition dilakukan pada saat tanggal penyerahan barang. Atau sudah tahu dibalik tanda terima barang penuh dengan disclaimer, tetapi kita mengabaikannya begitu saja tanpa pernah even bothered untuk membaca maupun memahaminya. Sudah tahu hanya waktu tiga hari tidak cukup untuk melakukan pemeriksaan barang, tetapi kita main tanda tangan saja.

Khususnya anda yang ada di posisi ”management level, anda WAJIB aware terhadap hal ini, jika tidak mau credibilitas anda dipertanyakan dikemudian hari sehubungan dengan issue serah-terima barang dagangan. Pastikan prosedur serah terima barang beserta pencatatannya (revenue recognition) di set dengan jelas dan dipatuhi oleh sub-ordinat anda secara consistent, ANDA WAJIB MEMASTIKAN hal itu.

Untuk rekan-rekan yang masih staff level (junior level), mulailah aware terhadap hal-hal seperti ini (yang mungkin anda tidak pernah sadari sebelumnya, karena anda pikir itu tidak penting). Misalnya: pada saat memasukkan jurnal penjualan, perhatikanlah clausal penjualan atau contract (jika ada), jika tidak ada, pertanyakanlah kepada pihak yang terkait (marketing) atau atasan anda langsung. Jika atasan anda tidak mau ambil pusing, catatlah dibuku agenda anda, sebagai bahan masukan untuk meeting yang akan datang. Trust me, you have a bright future!.

Dengan artikel REVENUE RECOGNITION AT THE DELIVERY TIME INI, mudah-mudahan kita bisa melakukan pengakuan atas pendapatan dengan lebih baik lagi, lebih aware terhadap contract jual-beli, lebih aware lagi terhadap potensi issue yang ada sehubungan dengan serah terima barang dagangan.

Revenue recognition is not always easy, In certain cases, revenue recognition problems arise because the ultimate collection of the selling price is not reasonably assured, or because it is difficult to determine when the earning process has been completed. In these cases, companies may wish to not recognize the revenue at the delivery time for this may rise a potential issue, so company will most likely delay recognition of the revenue until after delivery. On the other hand, if there is a high degree of certainty regarding the earnings, companies may wish to recognize the revenue before delivery. So, up coming topic: Revenue Recognition Before The Delivery Time.