Connect with us

Accounting

Accounting Treatment: Discount, Sales Return & Warranty

Published

on

This topic is a supplement topic to emphasize specific issues: Accounting Treatment for Discount, Sales Return & Warranty. They may not exist or exist on the implementation of company’s operation, in fact Sales and Account Receivable are two main accounts which are much connected with these issues.

Keberadaan potongan (discount), retur penjualan, dan garansi memang sering kurang mendapat porsi yang cukup dalam pembahasan-pembahasan akuntansi, baik di buku-buku maupun di bangku kuliah. Kenyataannya, bagi perusahaan-perusahaan trading, terutama retailer, discount, sales return dan warranty adalah issue-issue yang sangat mendominasi dalam pelaksanaan administrasi perusahaan.

Advertisement

 

Discount

Ada 2 jenis discount yang biasa diberikan kepada customers:

[1]. Trade Discount/Rebate (Potongan Dagang/Rabat)

Trade Discount yang juga biasa disebut dengan “Rebate” yang kit adi Indonesia mengenalnya dengan istilah “Potongan Dagang” atau “Rabat” adalah potongan berupa penurunan harga yang langsung diberikan kepada customer pada saat pemesanan (pembelian) dilakukan tanpa melihat faktor (kondisi) lain. Trade discount akan (potongan dagang) ada jika perusahaan memberlakukan “published price” dalam quotation (=penawaran) atau perusahan memang menurunkan harga untuk tujuan tertentu pada season (event) tertentu.

Contoh:

PT. Royal Bali Cemerlang adalah pedagang computer eceran yang menjual computer Type X. Cost of Goods Sold computer type X adalah Rp 3,500,000/unit. Ongkos angkut ke customer dihitung Rp 100,000/unit. PT. Royal Bali Cemerlang mematok 50% profit, sehingga net price-nya menjadi = (Rp 3,500,000+100,000) + (50%x(Rp3,500,000+100,000) = Rp 5,400,000. Tetapi untuk pertimbangan strategy pemasaran, PT. Royal Bali Cemerlang memasang label harga Rp 6,000,000/unit di dalam catalog (brosur) penjualannya (di dalam dunia perdagangan dikenal sebagai “Published Price). Sehingga, untuk setiap unit yang laku, PT. Royal Bali Cemerlang akan memberikan potongan harga sebesar Rp 600,000. Potongan inilah yang disebut dengan ”Trade Discount/Rebate (Potongan Dagang/Rabat)”. Besaran trade discount berbeda dari industry ke industry, dari pasar ke pasar, dari perusahaan ke perusahaan yang lain. So bisa dikatakan besaran trade discount tergantung pada policy (kebijakan) perusahaan masing-masing.

Untuk setiap unit yang laku akan dicatat dengan jurnal:

[Debit]. Cash/Piutang = Rp 5,400,000
[Debit]. Trade Discount (Rabat) = Rp 600,000
[Credit]. Gross sales (Penjualan Kotor) = Rp 6,000,000

Catatan:

* Cash/Piutang akan masuk ke Balance Sheet
* Trade Discount akan masuk k eke Income Statament (Laba/Rugi) bersama-sama dengan Gross Sales. Sehingga structure sales di Income Statement akan menjadi:

Gross Sales = Rp 6,000,000
[minus]
Trade Discount = Rp 600,000
————————————
= Net Sales = Rp 5,400,000

Dengan demikian, maka syarat pengakuan sales pada nilai bersihnya (net value) tetap terpenuhi.

Jika penjualan dalam negeri dan perusahaan adalah PKP, maka akan terhutang PPN, sehingga jurnalnya menjadi:

[Debit]. Cash/Account Receivable = Rp 5,940,000
[Debit]. Trade Discount = Rp 600,000
[Credit]. Gross Sales = Rp 6,000,000
[Credit]. PPN Keluaran = Rp 540,000

Sebagian perusahaan tidak mencatat trade discount di dalam pembukuan, yang dicatat hanya nilai bersihnya saja, sehingga jurnalnya menjadi:

[Debit]. Cash/Account Receivable = Rp 5,940,000
[Credit]. Gross Sales = Rp 5,400,000
[Credit]. PPN Keluaran = Rp 540,000

Sehingga structure sales di dalam income statement tidak menunjukkan adanya trade discount. Yang aneh (walaupun pada dasarnya tidak salah) adalah: di faktur penjualan nampak adanya trade discount, tetapi di dalam pembukuannya yang dicatat hanya net sales-nya. Mungkin pencantuman trade discount di faktur hanya untuk menunjukkan kepada customer bahwa perusahaan memberikan potongan harga.

Saya menganjurkan, agar antara bukti transaksi selalu sama dengan catatan, meskipun nantinya akan dibuktikan dengan cash in-nya juga. Hal itu perlu untuk memudahkan pengawasan dan pengendalian.

Trade Discount juga bisa terjadi karena memang perusahaan melakukan penurunan harga. Hal ini biasanya dilakukan untuk tujuan atau alasan tertentu (misalnya: promosi, item yang sudah out of date, atau item yang sudah terlalu lama disimpan digudang). Tentu saja semua perusahaan mengakui discount ini. Prosedur pencatatanya sama saja dengan trade discount sebelumnya.

 

[2]. Sales Discount/Cash Discount (Potongan Penjualan).

Discount ini timbul pada penjualan credit, dimana discount biasanya diberikan pada saat realisasi pembayaran terjadi. Itulah sebabnya mengapa sales discount sering disebut dengan istilah “Cash Discount” karena discount diberikan pada saat realisasi cash terjadi diluar trade discount yang telah diberikan. Besaran sales discount (cash discount) tergantung pada credit term (termin) yang telah ditetapkan.

Contoh:

Melanjutkan contoh yang sebelumnya, Pada tanggal 20 June 2008, PT. Royal Bali Cemerlang berhasil menjual 5 unit computer type X kepada PT. Subur Makmur dengan Publish price Rp 6,000,000/unit. payment term (termin pembayaran) 2/10;N/30, artinya:

[1]. PT. Subur Makmur akan memperoleh sales discount sebesar 2% jika realisasi pembayaran (pelunasan) dilakukan 10 hari setelah barang diterima atau sebelumnya (21 s/d 30 June 2008). Nah discount 2% itulah yang disebut sebagai “Cash (Sales Discount)”.

[2]. Sedangkan jika pembayaran dilakukan setelahnya, maka discount tidak akan berlaku lagi. Pelunasan paling lambat 30 hari setelah penyerahan (20 July 2008).

Transaksi penjualan pada tanggal 20 June 2008 (PT. RBC adalah PKP), dicatat dengan jurnal:

[Debit]. Account Receivable = Rp 29,700,000
[Debit]. Trade Discount = Rp 3,000,000
[Credit]. Gross Sales = Rp 30,000,000
[Credit]. PPN Keluaran = Rp 2,700,000

Catatan:
* Account Receivables = (Gross Sales-Trade Discount) + PPN
* Trade Discount = Rp 600,000 x 5
* Gross Sales = Rp 6,000,000 x 5
* PPN Keluaran= 10% x (Rp 30,000,000 – 3,000,000)

Jika PT. Subur Makmur melunasi hutangnya paling lambat 10 hari setelah penyerahan (30 June), maka PT. Royal Bali Cemerlang akan memberikan discount sebesar Rp 2% dari Net Sales, untuk itu pelunasannya akan dicatat dengan jurnal:

[Debit]. Cash = Rp 29,106,000
[Debit]. Sales (Cash) Discount = Rp 540,000
[Debit]. PPN Keluaran = Rp 54,000
[Credit]. Account Receivable = Rp 29,700,000

Catatan:

* Sales Discount = 2% x (30,000,000-3,000,000)
* Sales discount diikuti dengan penerbitan “Faktur Pajak Keluaran (FPK) atas Discount” untuk dikirimkan kepada PT. Subur Makmur, oleh karenanya penerimaan cash akan berkurang sebesar sales discount ditambah FPK atas discount yang diterbitkan. Selanjutnya di buku perusahaan, PPN keluaran juga di debit sebesar FKP discount
* Sama halnya dengan trade discount, sales discount pun akan menjadi faktor pengurang sales.

 

Sales Return and Allowance (Retur Penjualan dan Cadangan)

Setiap penjualan selalu disertai oleh kemungkinan barang kembali (return). Dan perusahan-perusahaan saat ini sudah sangat menyadari bahwa hal seperti ini tidak bisa dihindari. Dan adalah tidak mungkin memaksa pelanggan untuk menerima barang cacat (defect) atau tidak sesuai dengan spesifikasi pesanan (wrong specification).

Ada sebagian perusahaan mengantisipasi kemungkinan sales return (Retur Penjualan) ini dengan membentuk rekening ”Provision for Sales Return and Allowance (Cadangan Retur Penjualan)”. Besaran cadangan biasanya ditentukan dengan cara mengalikan persentase tertentu dengan sales, sedangkan besarnya persentase ditentukan berdasarkan pengalaman perusahaan di periode-periode sebelumnya.

Adapun jurnal pembentukan candangan ini adalah sebagai berikut:

[Debit]. Sales Return and Allowance
[Credit]. Provision for Sales Return & Allowance

Catatan:
* Sales Return & Allowance tentu saja akan masuk ke Income Statement sebagai faktor pengurang Sales.
* Provision for Sales Return & Allowance adalah rekening riil, dan akan masuk ke Balance Sheet, di kelompok “Liabilities (Kewajiban)”, (bukan asset).

Nantinya, jika return benar-benar terjadi, maka rekening cadangan ini akan dihapuskan dengan meng-kredit rekening Account Receivable, jurnalnya:

[Debit]. Provision for Sales Return & Allowance
[Credit]. Account Receivable

Catatan: Sampai saat ini, saya belum mendalami lebih jauh mengenai perlakuan perpajakan atas pembentukan cadangan ini (termasuk cadangan kerugian piutang). Khusus mengenai cadangan return penjualan, rasanya perusahaan menjadi bertindak berlebihan dengan mengakui adanya return penjualan, sementara return belum benar-benar terjadi. Jika kebetulan ada yang tahu mengenai perlakuan pajak atas cadangan retur penjualan dan cadangan kerugian piutang, mohon agar dapat di-sharing di sini.

Sebagian perusahaan yang pernah saya tangani, melakukan pengakuan atas return penjualan hanya pada saat benar-benar terjadi return. Hal ini dilakukan karena perusahaan menggap metode cadangan return ini terlalu sulit untuk diimplementasikan.

Contoh:

Dari 5 unit computer yang berhasil dijual oleh PT. Royal Bali Cemerlang pada tanggal 20 June 2008, pada tanggal 25 June Barang dikembalikan satu unit karena pada saat PT. Subur Makmur mencoba mengoperasikannya, ternyata diketahui barang tidak berfungsi. Atas return tersebut dicatat dengan jurnal:

[Debit]. Sales Return = Rp 5,400,000
[Debit]. PPN Keluaran = Rp 540,000
[Credit]. Account Receivable = Rp 5,950,000

 

Warranty (Garansi).

Warranty (garansi), juga menjadi salah satu strategic point dalam dunia perdagangan, khususnya untuk “non-consumer goods”. Hampir semua perusahaan menyediakan “After Sales Service. Hanya saja kondisi warranty-nya berbeda-beda.

Warranty Term yang umum kita temui, antara lain:

[-]. Jaminan penggantian barang baru untuk kerusakan dalam pengguanaan normal untuk jangka waktu tertentu (bias anya pendek: 3 hari s/d 1 minggu).

[-]. Jaminan penggantian sparepart untuk kerusakan sparepart pada penggunaan normal untuk jangka waktu tertentu (biasanya antara 1 bulan hingga 1 tahun).

[-]. Jaminan service (repair) atas kerusakan dalam pemakian normal untuk jangka waktu tertentu (biasanya cukup panjang: 1s/d 2 tahun).

Di negara-negara maju, justru kebalikannya. Labor warranty (garansi service) justru diberikan lebih pendek dibandingan spare-part, why? Karena di negara-negara maju tenaga technician untuk ”dirty works” (pekerjaan kasar) justru lebih tinggi cost-nya dibandingkan spare-part.

Adapun pencatatan pengeluaran atas warranty (Garanasi) adalah sebagai berikut:

[1]. Penggantian dengan barang baru, dicatat dengan jurnal:

[Debit]. Cost Of Goods Sold
[Credit]. Inventory
(catatan: tidak ikuti dengan pengakuan sales).

[2]. Penggantian Sparepart:

[Debit]. Cost Of Goods Sold
[Credit]. Inventory
(catatan: tidak ikuti dengan pengakuan sales).

Terkadang semua pengeluaran untuk memenuhi commitment warranty dicatat sebagai “warranty costsaja.

Jika diperhatikan, jurnal-jurnal di atas menunjukkan: adanya realitas pengeluaran (inventory: barang jadi, sparepart, dan labor cost) di satu sisi untuk memenuhi warranty, akan tetapi tidak diimbangi dengan event penjualan atau penyerahan jasa di sisi lainnya, karena memang pengeluaran untuk warranty biasanya dimaksudkan untuk meng-cover penjualan di periode-periode sebelumnya. Hal ini akan selalu membuat setiap cost atas warranty menjadi tidak bisa disandingkan secara langsung terhadap revenue di periode yang sama.

Untuk tujuan penyandingan itulah, maka pengeluaran atas warranty dibebankan langsung pada periode yang sama saat terjadinya pengakuan atas penjualan (revenue), dengan cara membentuk perkiraan ”utang sesuai jaminan” .Jurnalnya:

[Debit]. Warranty Cost
[Credit]. Liability Based on Warranty

Nantinya, jika expenditure untuk memenuhi kewajiban warranty sudah benar-benar terjadi, dibuatkan jurnal:

[Debit]. Liability Based On Warranty
[Credit]. Cash.

 

Mudah-mudahan supplement article khusus mengenai; Discount (potongan harga), Sales Retun (Retur penjualan) serta Warranty ini bisa menjadi bahan bacaan yang bermanfaat. Sekiranya ada kekeliruan baik dalam pengetikan (error-typo), spelling, pemaparan, perhitungan ataupun perlakuannya, saya terbuka terhadap masukan yang bersifat constructive. Untuk itu silahkan disampaikan jika ada koreksi atau masukan, atau pendapat, atau ingin bertanya mengenai topic ini, melalui ruang komentar.

25 Comments

25 Comments

  1. PIMPLE

    Jun 24, 2008 at 5:46 am

    bravo pa putra, tulisannya singkat, jelas & mudah dipahami, sangat membantu untuk memahami lebih dalam lagi tentang akuntansi (khususnya buat saya sebagai pemula).

    • Ramadhani Athumani

      Sep 9, 2011 at 1:25 pm

      Thanks Putra.

      Can you help you help me with the English version of this topic please.

      Many thanks.

      Ramadhani(TANZANIA)

  2. nthoelll

    Jun 24, 2008 at 9:45 am

    Pandangan lain dari seorang konsultan SAP Business One:
    – Trade discount tidak pernah dijurnal. Tapi diskon ini tetap tercatat di level transaksi, dan dapat ditampilkan dalam print layout dokumen dan faktur pajak.
    – Cash discount dapat di setting dari payment term, dan apabila terjadi pembayaran di periode dicount akan langsung memotong nilai “balance due”. Rugi/laba selisih kurs dan potongan untuk pph23 juga dapat diakui saat payment secara otomatis.
    – Akun “Sales Return” sebaiknya di set ke akun “Sales Revenue” juga, sehingga langsung mengkoreksi akun sales tersebut. Pertimbangannya, di SAP revenue langsung diakui saat dokumen A/R Invoice dibuat. Apabila salah input invoice, satu2nya koreksi adalah A/R Credit Memo. Jadi apabila banyak terjadi salah input invoice dan akun untuk retur dipisahkan maka seolah-olah nilai sales revenue sangat tinggi, demikian pula nilai sales retur (yang notabene tinggi dikarenakan banyaknya koreksi, bukan retur sesungguhnya).
    – Tentang pencadangan biaya garansi ke akun liability saya sangat setuju. Memang timing constrain ini yang kita banyak hadapi saat garansi diberikan atas barang yang kita jual.

    -=Dody=-

  3. Putra

    Jun 25, 2008 at 6:04 am

    @henkster – No problem pak.

    @ferrialdi – Yupz, dibuatkan pembetulan. Sebaiknya pembetulan dibuat dan dilaporkan begitu pembetulan dibutuhkan (tidak perlu menunggu masa berikutnya), makin cepat di lakukan pastinya akan lebih bagus ya.

  4. dwirini

    Jul 25, 2008 at 8:50 pm

    kalo kebalikannya gimana? kalo perusahaan yg dapat diskon atas pembelian untuk stok yang akan kita jual ke customer, apakah perlu dicatat tersendiri dan mengurangi cost of good sold?
    thx sebelumnya

  5. Putra

    Jul 26, 2008 at 12:24 am

    @dwirini – Yes, you may record it as “Discount On Purchase with the following entries:

    [Debit]. Account Payable $ xxx
    [Credit]. Discount On Purchase $ xxx

    With this entry:

    Account Payable will be decreased by $ xxx; and
    Discount On Purchase by $ (xxx)

    Note: Discount on purchase will reduce your inventory value, and nothing to do with Cost Of Goods Sold.

  6. dwirini

    Jul 27, 2008 at 7:34 pm

    thx tanggapannya, perlakuan diskon ini akan langsung sebagai deduction dari inventory di Balance Sheet? bukan sebagai pengurangan atas biaya pembelian?
    thx 4 yr prompt reply, gw dah agak2 lupa pelajaran akunting

  7. Putra

    Jul 28, 2008 at 5:16 am

    @dwirini – Biaya pembelian? saya agak ragu menggunakan istilah “biaya pembelian”. Pembelian barang persediaan pada dasarnya merupakan “Penerimaan Inventory dicatat, sehingga dicatat dengan:

    [Debit].Inventory
    [Credit]. Cash/Account Payable

    Atas discount pembelian inventory, itu akan mengurangi nilai pembelian saja, tanpa mengurangi unit(volume) inventory itu sendiri).

    Yupz, discount penjualan akan mengurangi receive of good (penerimaan barang inventory). Inventory Beginning Balance ditambah “Inventory Purchase” dikurangi “Return” dikurangi “discount” dikurangi Cost of Good Sold, akan menghasilkan Inventory Ending Balance yang akan masuk ke “Balance Sheet”.

  8. Putra

    Jul 28, 2008 at 5:18 am

    “Receipt of Goods (ROG)” what I really meant, not “receive of good” :p

  9. dwirini

    Jul 29, 2008 at 8:27 pm

    Ya tentu diskon nggak ngurangi unit lah. Nilai pembeliannya aja yg berubah.
    Eh,… ada pendapat teman, bahwa diskon dari pembelian masuk ke pendapatan lain2, jadi di general ledger akun diskon pembelian masuk sebagai akun income statement bukan akun balance sheet. Hal ini diatur nggak sih di psak / gaap, perlakuan mana sih yg benar, jadi bingung nih.
    thx sebelumnya

  10. Putra

    Jul 30, 2008 at 6:38 am

    @dwirini – Is it okay to record a purchase discount as an income (revenue) recognition???

    To answer the question, have a read the following refferences:

    Ref-1: The International Accounting Standards Board (IASB) uses this definition:

    Income is increases in economic benefits during the accounting period in the form of inflows or enhancements of assets or decreases of liabilities that result in increases in equity, other than those relating to contributions from equity participants. [F.70] (IFRS Framework).

    Ref-2: In U.S. business and financial accounting:

    The term ‘income’ is also synonymous with revenue; which is the amount of money that a company earns after covering all of its costs.

    Ref-3:wikipedia.org

    In business, revenues is income that a company receives from its normal business activities, usually from the sale of goods and services to customers. Some companies also receive revenue from interest, dividends or royalties paid to them by other companies.

    Now let’s talk about what do refferers meant about “Income/Revenue”:

    Ref-1 (by IASB/IFRS framework): Income/revenue adalah manfaat ekonomis selama periode akuntansi tertentu dalam bentuk arus masuk kepada asset atau pengurangan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan pada equity (modal) selain yang berupa setoran modal.

    Ref-2 (U.S financial accounting)

    adalah jumlah uang yang di earned (diterima) perusahaan setelah cost/expense tercover.

    Ref-3 (wikipedia):

    Kemungkinan income itu hanya diterima dari hasil penjualan (sales) suatu product atau penyerahan jasa, atau bisa jadi berupa bunga (interest), dividen (dividends) atau or royalties (royalti.

    Dari ketiga references di atas saya tidak menemukan adanya kemungkinan discount pembelian “sesuai” jika diakui sebagai bagian dari pendapatan.

    THAT IS CORRECT, bahwa discount pembelian masuk ke income statement (bukan ke balance sheet), akan tetapi discount pembelian bukan digolongkan sebagai pendapatan, melainkan sebagai pengurang “inventory purchase” dalam kelompok Cost of Goods Sold.

    Sebagai gambaran saja, bentuk Income statement yang mengandung discount pembelian, akan seperti dibawah ini:

    (A). REVENUE (INCOME):

    -Sales = xxx,xxx,xxx
    -Sales Discount = (xx)
    -Sales Return = (x)
    -Other Income *) = xx
    ————————————–
    Net sales = xxx,xxx,xxx

    (B). COST OF GOODS:

    (1). Inventory:

    -Inventory beginning Balance = xxx
    -Inventory Purchase = xxx,xxx
    -Purchase Discount = (xx)<<===Discount Pembelian -Purchase Return = (x) <<===Retur Pembelian -Inventory Ending Balance = (xx) --------------------------------------- Inventory available for sales= xxx,xxx (2). Direct labour Cost = x,xxx (3). Overhead = xxx --------------------------------------- Cost of Goods Sold = xxx,xxx ----------------------------------------------- Gross Profit Dan seterusnya....

  11. abdi_oke

    Aug 7, 2008 at 3:57 am

    Thanks for pak Putra, for the brief and clear explanations.
    Keep moving forward.

  12. satriya

    Aug 9, 2008 at 2:14 pm

    Bagaimana dengan Penalti? Pinalti bisanya timbul karena kita tidak dapat memberikan prestasi sesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan. Dalam dalam praktik biasanya penalti ini dipotong langsung dari invoice yang kita kirimkan ke client.

    Manakah yang lebih tepat, memperlakukan penalti ini sebagai tambahan dari COGS atau sebagai pengurang dari penjualan? Apakah perlu kita membentuk cadangan untuk penalti ini? Dan bagaimanakah perlakuan perpajakannya?

    ++ SATRIYA ++

  13. abdi_oke

    Aug 13, 2008 at 3:10 am

    Wah, semakin menarik dan beragam pertanyaan yang dilontarkan nih.
    Saya mau partisipasi dengan sedikit jawaban, silahkan dikomentari / ditambah / disanggah ya:

    Mengenai biaya penalty yang timbul dari kegagalan menjalankan suatu perjanjian kontrak atau transaksi maka merupakan kerugian bagi perusahaan. Biaya penalty lebih tepat dianggap sebagai kerugian karena biaya ini timbul tidak dengan tujuan mendapatkan pendapatan atau bertambahnya sumberdaya perusahaan (non value added). Sehingga menurut saya lebih tepat dianggap sebagai kerugian.

    Masalah pengklasifikasian-nya apakah berpengaruh terhadap penjualan atau COGS saya berpendapat bahwa biaya penalty haruslah dibuatkan akun tersendiri dengan tidak melibatkan angka penjualan dan COGS. Biaya penalty merupakan biaya yang timbul dengan tidak berakibat angka penjualan dan COGS berkurang. Sekalipun perusahaan dikenakan penalty atas pengiriman yang terlambat namun perusahaan tidak dapat mengurangkan angka penjualan dan COGS karena jumlah yang terjual dan COGS yang muncul angkanya sama seperti halnya bila anda tidak terkena penalty, jadi biaya penalty menurut saya lebih tepat dianggap sebagai kerugian bagi perusahaan.

    Mengenai pencadangan biaya penalty, hal ini berpulang kembali kepada kebijakan manajemen perusahaan dalam menerapkan konsep konservatif sesuai dengan industri yang dijalani-nya. Seandainya biaya penalty memang sering muncul karena hal khusus dalam industri tersebut yang tidak memperkenankan keterlambatan pengiriman sehingga tercantum dalam kontrak-kontrak tertulis yang mengikat, maka perusahaan bisa mencadangkan biaya penalty. Biaya penalty yang akan muncul (dalam kasus dan industri tertentu) telah memenuhi syarat sebagai kewajiban di estimasi (PSAK no 57):

    18. Kewajiban diestimasi adalah kewajiban yang waktu dan jumlahnya belum pasti.

    Waktu dan jumlah belum pasti tepat dilekatkan kepada biaya penalti, perusahaan pada umumnya tidak mengetahui mengenai biaya penalti yang akan diderita dan kapan akan terjadi biaya tersebut. Meskipun semua sudah tercantum di kontrak tertulis namun apakah perusahaan dengan begitu saja dapat memperhitungkan biaya penalti yang akan diderita karena perusahaan pasti akan berusaha untuk menghindari terkenanya biaya penalti. Maka pencadangan dapat dilakukan sebagai salah satu aktivitas yang berdasar pada prinsip konservatif. Mengenai jumlah yang dicadangkan tergantung dari perusahaan dan industri yang dijalankan oleh perusahaan, serta manajemen yang memimpin perusahaan.

    Mengenai perpajakannya, berpulang lagi ke peraturan perpajakan bahwa pencadangan tidak dapat dianggap sebagai pengurangan penghasilan kena pajak sampai pencadangan tersebut sudah terbukti keterjadiannya (cash basis). Sehingga biaya penalti akan berpengaruh sebagai pengurang angka income perusahaan ketika biaya tersebut sudah benar-benar terjadi.

    Regards,
    cheer

  14. Wahyudi

    Aug 19, 2008 at 1:49 am

    Sebagaimana yg menjadi tanya rekan dwirini, memang ada beberapa rekan yg menyarankan untuk discount agar dimasukkan ke dalam pendapatan lain-lain, dan saya yakin pendapat ini terkait dengan penggunaan sebuah program akuntansi.
    Nah terkait dengan hal tersebut, kira-kira nih untuk program akuntansi dalam mencatat discount dimasukkan dalam komposisi akun disebelah mana? apakah masuk dalam kategori balance sheet atau profit/loss statement?

  15. satriya

    Aug 23, 2008 at 2:55 pm

    Dwirini, Abdi @ Jika kita sebagai Penjual sebenarnya boleh-boleh saja memasukkan discount (sales discount) ini ke dalam pendapatan asalkan kita menggunakan net method dalam mencatat cash discount ini (yang dijelaskan Pak Putera diatas menggunakan gross method). Dalam net method ini sales dan AR dicatat sebesar nilai bersih setelah dikurangi sales discount sehingga secara teknis penjurnalannya akan sebagai berikut :
    Transaksi penjualan pada tanggal 20 June 2008 (PT. RBC adalah PKP), dicatat dengan jurnal:
    [Debit]. Account Receivable = Rp 29,160,000
    [Credit]. Net Sales = Rp 26,460,000
    [Credit]. PPN Keluaran = Rp 2,700,000
    Catatan:
    * Account Receivables = (Gross Sales-Trade Discount-Cash Discount) + PPN
    * Gross Sales = Rp 6,000,000 x 5
    * Trade Discount = Rp 600,000 x 5
    * Cash Discount = 2% x (30,000,000-3,000,000)
    * PPN Keluaran= 10% x (Rp 30,000,000 – 3,000,000)
    Jika PT. Subur Makmur melunasi hutangnya paling lambat 10 hari setelah penyerahan (30 June), maka PT. Royal Bali Cemerlang akan memberikan discount sebesar Rp 2% dari Net Sales, untuk itu pelunasannya akan dicatat dengan jurnal:
    [Debit]. Cash = Rp 29,160,000
    [Credit]. Account Receivable = Rp 29,160,000
    Jika PT. Subur Makmur melunasi hutangnya lebih dari 10 hari setelah penyerahan (30 June), maka pelunasannya akan dicatat dengan jurnal:
    [Debit]. Cash = Rp 29,700,000
    [Credit]. Account Receivable = Rp 29,160,000
    [Credit]. Sales Discount Forfeit = Rp 540,000

    * Sales Discount Forfeit = 2% x (30,000,000-3,000,000)
    Sales Discount Forfeit ini diakui sebagai pendapatan lain-lain (other revenue).

    Secara teoritis, net method ini lebih baik daripada gross method karena menyajikan AR lebih pada Net Realizable Value-nya, tapi karena alasan kepraktisan maka dalam praktik lebih sering digunakan gross method dalam mencatat sales discount.

    Sedangkan bila kita sebagai pembeli maka discount (purchases discount) harus menjadi pengurang cost /expenses (tergantung apa yang kita beli), hal ini telah dijelaskan dengan sangat ilmiah oleh Pak Putera.

    Thanks

  16. heberdamanik

    Sep 9, 2008 at 9:48 am

    Bang ada pertanyaan saya.
    misalkan customer kita tidak mau ditunjukkan ada potongan harga. maksudnya di fakturpajak sudah net.
    ct.
    penjualan 100
    disk 10
    net 90.
    difaktur pajak mau dia dpp 90. apakah ini diperbolehkan pada tax?
    terima kasih
    heberdamanik

  17. Antonylim

    Sep 16, 2008 at 2:14 am

    pak putra, pada contoh sales return,

    [Debit]. Sales Return = Rp 5,400,000
    [Debit]. PPN Keluaran = Rp 540,000
    [Credit]. Account Receivable = Rp 5,950,000

    Bagaimana dengan barang yg di terima kembali ? Miss barang tsb tidak rusak dan bisa di jual kembali.

    Thank’s

  18. DWI

    Oct 6, 2008 at 1:22 pm

    @antony
    Sekedar share saja, biasanya saya menjurnal balik Persediaan pada COGS untuk retur seperti contoh diatas. Dengan catatan metode yang saya gunakan adalah perpetual. Jurnalnya kira2 :
    [D] Merchandise Inventory
    [K] COGS
    sekalian nanya ke Pak Putra jurnal spt ini diperbolehkan / tidak? kalo bole sebaiknya bagaimana cara men-disclosure nya pada Income Statement. Thx.

  19. mega

    Dec 2, 2008 at 3:37 am

    wah, penjelasan pak putra sangat menarik… saya ada pertanyaan mengenai sales return.. sampai mana sich batasan bahwa retur tersebut material untuk disajikan di income statement? apa 1% dari total penjualan atau ada batasan lainnya? apakah retur penjualan perlu dibuat provisi, jika retur yang terjadi sekitar 0.7%dari pejualan?

    thanks

  20. monasku

    Apr 20, 2009 at 8:25 am

    Pak, saya ingin menanyakan apabila kita sebagai distributor memberikan diskon kepada reseller atas dasar penjualan bulanan ( min. sales). Untuk Pelaporan pajak apakah perlu kita sertakan perjanjian tertulis?? sebab di nota penjualan sering tidak tercantum diskon. diskon lasung di perthitungkan pada saat reseller membayar tagihan.
    thankx

  21. Anie

    Apr 21, 2009 at 3:43 am

    Dear Pak Putra,
    Seandainya harga jual sudah mencakup PPN,bagaimana jurnalnya?
    HJ – Discount = Rp.6.000.000 – 600.000
    Asumsi HJ tersebut sudah mencakup PPN?
    Thanks pak putra 🙂

  22. egi

    May 11, 2009 at 9:56 am

    Pak,
    senang skali saya bisa masuk di blog ini.. coz skarg lagi bingung..
    melanjutkan pertanyaan pak Ferrialdi, PPNnya sudah dilaporkan >>buat pembetulan. bagaimana klo invoicenya&FPnya sudah issued dr tahun lalu(NOv 2008)? apakah sy harus buat pembetulan masa Nov 2008? sy sudah buat Credit note&nota return.

  23. Erna

    Aug 5, 2009 at 6:33 am

    Pak, Thanks buat explanationnya ya

    Saya mau minta advise : Kalo waranty costnya dilakukan setelah terjadi barang rusak , jadi kita tidak melakukan provision bersamaan dengan penjualan….apakah pencatatannya sama spt diatas?

    thanks seblmnya..

  24. Prama

    Jun 18, 2010 at 10:34 am

    Kalo Boleh saya kasi masukan, perlakuannya sama saja Mas. Return boleh dilakukan atas barang yang salah beli, tergantung kebijaksanaan persahaan. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Are you looking for easy accounting tutorial? Established since 2007, Accounting-Financial-Tax.com hosts more than 1300 articles (still growing), and has helped millions accounting student, teacher, junior accountants and small business owners, worldwide.

Trending