Connect with us

Accounting

Account Receivable Treatment (Perlakuan Akuntansi Piutang) – 2nd

Published

on

Account Receivable classification has been discovered on the previous post, some issues are still remain to be discussed on this entry: how much a receivable should be recognized and reported, some portions of it could be un-collectible which should be reflected on the report, we have to deal with discount, return, bad debt that will influence the subsidiary entries of the account receivable too, how to perform a prudent control for account receivable and many more issues will be covered in this post and the next series. So stick on!.

Penilaian (pengukuran) Piutang, Piutang tak tertagih (Bad Debt), Pembentukan Cadangan Kerugian Piutang, pengahapusan kerugian piutang (allowance for bad debt written-off), potongan, retur, dan segala sesuatu yang terakit dengan masalah piutang akan dibahas di posting ini dan serie-serie berikutnya. Silahkan diikuti terus.

Advertisement

 

Measurement (Penilaian Piutang)

Secara teoritis, piutang seharusnya di nilai pada jumlah yang menunjukkan present value dari penerimaan cash yang akan datang. Karena piutang dagang ideally dapat ditarik dalam waktu paling lama 90 hari (which is kurang dari satu tahun buku), maka para accountant bersepakat untuk mengabaikan segala kemungkinan (maupun kenyataan) akan adanya unsure bunga dalam piutang jangka pendek ini (Accounting Principle Board No. 21, Interest on Receivables and Payables, New York, 1971, AICPA).

Melihat rujukan ini, dapat kita tentukan bagaimana suatu receivable (piutang) dinilai.

* Piutang dilaporkan sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan*

Apa itu ”Nilai bersih yang dapat direalisasikan”?

Nilai bersih yang dapat di realisasikan adalah jumlah cash yang diharapkan dapat diterima dari hasil konversi aktiva (dalam hal ini inventory) pada alur bisnis yang normal (dalam hal ini penjualan barang/jasa).

Coba kita breakdown menjadi lebih detail lagi…..

Account Receivable (Piutang) = Net Value

Net Value = Net Sales

Net Sales = Gross Sales – Sales Expenditures

The next question is, apa saja yang termasuk ke dalam “Sales Expenditures”?

Ada berbagai kemungkinan yang menyebabkan nilai penjualan (dan piutang sebagai counter part-nya) menjadi berkurang:

  1. Discount (Potongan)
  2. Return (Barang kembali)
  3. After Sales service (Layanan purna jual)
  4. Bad Debt (Piutang Tak Tertagih)

Sehingga besarnya Account receivable yang akan dilaporkan menjadi :

Sales
[minus]
Discount
[minus]
Return
[minus]
After Sales Service
[minus]
Bad Debt
————————–
= Account Receivable [masuk ke “Balance Sheet”]

Catatan:

Untuk detail discount, return dan after sales services, saya post satu artikel khusus sebagai supplement, yaitu: Discount, Return and Warranty. Silahkan dibaca.

Question:
Bagimana bisa menentukan discount, return dan after sales sarvice jika pengakuan atas account receivable dilakukan pada saat penyerahan barang (revenue recognition at the delivery time). Lalu bagaimana jurnalnya?

Okay, pengakuannya:

Account Receivable diakui sebesar cash yang bisa direalisasikan.

Contoh:

PT. Royal Bali Cemerlang, pedagang komputer, Pada catalog (brosur) yang diterbitkan, PT. Royal Bali Cemerlang mesang harga Rp 6,000,000/unit. Dan akan memberikan potongan harga sebesar Rp 600,000 untuk setiap unit yang dibeli oleh pelanggan. Pada tanggal 20 June 2008, PT. Royal Bali Cemerlang berhasil menjual 5 unit computer kepada PT. Sinar Rejeki, secara credit dengan payment term 2/10;N/30. Transaksi tersebut dicatat dengan jurnal:

Penjualan Kotor = Rp 6,000,000 x 5 = 30,000,000
Potongan Dagang = Rp 600,000 x 5 = (3,000,000)
———————————————————————
Cash yang diharapkan bisa di realisasikan = Rp 27,000,000

Maka atas transaksi penjualan ini dicatat dengan jurnal:
[Debit]. Account Receivable (Piutang) = Rp 27,000,000
[Credit] Sales = Rp 27,000,000

(untuk mencatat penjualan dan pengakuan piutang)

[Debit]. Cost of Good Sold = Rp 18,000,000
[Credit]. Inventory = Rp 18,000,000
(untuk mencatat Cost of Goods Sold dan pengurangan atas inventory)

Pada tanggal 25 June 2008, ternyata 1 unit computer dikembalikan karena rusak. Setelah dicheck oleh technician ternyata barang memang rusak dalam pemakian normal (karena kesalahan pada perakitan). Maka atas return barang tersebut dicatat, dengan jurnal:

[Debit]. Sales Return (Retur Penjualan) = Rp 5,400,000
[Credit]. Account Receivable = Rp 5,400,000

Dengan demikian, maka pengakuan atas Account Receivable berkurang Rp 5,400,000 sehingga menjadi Rp27,000,000-Rp5,400,000=Rp21,600,000 (Lebih detail mengenai return and provision bisa anda baca artikel saya yang lain yaitu, Dicount, Return and Warranty).

Next….

Jika realisasi cash (pelunasan) dilakukan pada 30 June 2008 atau sebelumnya, maka atas pembayaran tersebut dicatat dengan jurnal:

[Debit]. Cash = Rp 21,168,000
[Debit]. Sales Discount = Rp 432,000
[Credit]. Account Receivable = Rp 21,600,000

Catatan:
* Discount = 2%xRp 21,600,000 (lihat payment term)
* Sales discount akan mengurangi nilai sales
* Account receivable terhapus (lunas)

Jika pembayaran dilakukan setelah tanggal 30 June, maka discount tidak berlaku lagi , sehingga jurnalnya akan menjadi:

[Debit]. Cash = Rp 21,600,000
[Credit]. Account Receivable = Rp 21,600,000

Bagaimana dengan pitang tak tertagih? Bukankah tadi di depan dikatakan bahwa piutang tak tertagih adalah salah satu unsur yang akan mengurangi nilai Account Receivable?

Okay, selanjutnya kita bahas mengenai piutang tak tertagih…..

A good start, dengan berpikir bahwa tidak mungkin bagi kita untuk tahu besaran yang tidak bisa atau kemungkinan tidak bisa ditagih.

 

Bad Debt and Its Allowance (Piutang Tak Tertagih dan Cadangan Piutang Tak Tertagih).

Customer/pelanggan tidak mau membayar utang, atau piutang hanya bisa ditagih sebagian, sudah biasa kita dengar, sudah banyak kejadian piutang tidak dilunasi oleh si penghutang dengan berbagai alasan. Tak ada satu perusahaan atau seorangpun yang bisa terhindar dari masalah bad debt (piutang tak tertagih) selama menyediakan fasilitas credit kepada customer (pelanggan). Untuk mengantisipasi hal ini, perusahaan biasanya membentuk rekening cadangan kerugian piutang.

Cadangan kerugian piutang inilah yang akan mengurangi pengakuan atas piutang nantinya pada saat piutang di hapuskan (write-off).

Lalu berapa yang dicadangkan? A good question.

 

Allowance For Bad Debt Determination

Pada mulanya ada 2 approach yang bisa dipakai untuk menentukan besarnya cadangan kerugian piutang, yaitu:

[1]. Income Statement approach

Besarnya cadangan kerugian piutang ditentukan dengan cara mengalikan persentase tertentu dengan Net Sales (Net sales=Gross Sales-Discount-Sales Return). Sedangkan besarnya persentase adalah berbeda-beda antara satu perusahaan dengan perusahaan lain, tergantung policy yang bentuk oleh pengalaman perusahaan masing-masing di dalam menangani bad debt.

Contoh:

Per tanggal 31 May 2008, PT. Royal Bali Cemerlang memiliki penjualan kredit sebesar Rp 200,000,000. Berdasarkan pengalaman periode-periode sebelumnya, potensi piutang tak tertagih mencapai 2% dari penjualan kredit. Untuk itu PT. Royal Bali Cemerlang mencadangkan kerugian piutang tak tertagih dengan jurnal:

[Debit]. Bad Debt (Piutang Tak Tertagih) = Rp 4,000,000
[Credit]. Allowance for Bad Debt (Cadangan Piutang Tak Tertaih) = Rp 4,000,000
(untuk membebankan bad debt sekaligus membuat cadangannya, 2%xRp200juta)

Catatan:

Account “Bad Debt” ini akan masuk ke income statement (Laba/Rugi) menjadi satu kelompok dengan Sales. Sehingga structure sales di Income statement nantinya akan menjadi:

Gross Sales
[minus]
Discount
[minus]
Return
[minus]
Bad Debt
——————
= Net Sales

Sedangkan Allowance For Bad Debt (Cadangan Piutang Tak Tertagih) akan masuk ke Balance Sheet (Neraca) dan menjadi satu kelompok dengan Account Receivable, biasanya di letakkan persis di bawah Account Receivable.

[2]. Balance Sheet approach

Besarnya cadangan kerugian piutang ditentukan dengan cara mengalikan persentase tertentu dengan saldo Account Receivable di Balance Sheet.

Contoh:

Pada Tanggal 31 May 2008, saldo akhir Account Receivable PT. Royal Bali Cemerlang adalah Rp 100,000,000. Berdasarkan pengalama periode-periode sebelumnya, potensi piutang tak tertagih mencapai 2%. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka PT. Royal Bali membentuk cadangan kerugian piutang dengan jurnal:

[Debit]. Bad Debt (Piutang Tak Tertaig) = Rp 2,000,000
[Credit]. Allowance for Bad Debt (Cadangan Piutang Tak Tertaih) = Rp 2,000,000
(untuk membebankan bad debt sekaligus membuat cadangannya, 2%xRp100juta)

Catatan: Pengelompokkan sama dengan Income Statement Approach.

Apakah anda bisa menemukan, apa yang tidak beres (kelemahan) dari kedua approach di atas?

Okay, kita urai…

Cadangan Kerugian PiutangKedua approach di atas menggunakan total sebagai pengali dari persentase potensi ketidak-tertagihan piutang. Income statement approach menggunakan total penjualan kredit, dan balance sheet approach menggunakan saldo akhir account receivable. Artinya itu semua adalah akumulasi berbagai penjualan kredit (income statement approach) dan akumulasi Account receivable (Balance Sheet approach). Artinya, ada berbagai termin pembayaran (jangka waktu kredit) di dalamnya. Lalu itu semua dikalikan dengan satu macam persentase saja!, mungkinkah penjualan kredit yang hanya ber-termin 2 minggu juga memiliki potensi ketidak-tertagihan 2% saja, dan sama dengan penjuala kredit yang bertermin 90 hari?. Sungguh suatu estimasi yang masih kasar. Sangat besar kemungkinanya meleset.

Mungkin anda ingin mengatakan; bukankah persentase tersebut adalah suatu hasil average? Anda benar, memang persentase itu adalah perata-rata-an. Dari penjualan kredit berjangka paling pendek dijumlahkan hingga yang berjangka paling panjang (let’s say 90 hari) lalu diambil nilai tengahnya (average). Tetapi diperlukan kehati-hatian yang extra untuk menerapkan kedua approach ini.

Untuk menutup loopholes (celah kelemahan) kedua approach sebelumnya ini, lahir lah “Aging Method”, yang di Indonesia kita kenal dengan istilah: Analisa Umur Piutang, dimana besaran cadangan kerugian piutang di taksir bedasarkan kelompok umur (age) dari piutang. Nah, approach inilah yang dianggap paling make-sense hingga saat ini.

Catatan: Karena pembahasan analisa umur piutang ini sifatnya technical, agar benar-benar terfocus, maka saya akan bahasa secara khusus sebagai supplement, yaitu: Account Receivable Aging.

Terlepas dari approach apa yang dipakai, apakah rekening cadangan kerugian piutang (Cadangan piutang tak tertagih) ini akan selamanya berada di Balance Sheet? Tidak, let’s read on…….

 

Pengahapusan cadangan Kerugian Piutang (Write-off)

Seperti telah saya sampaikan sebelumnya bahwa cadangan kerugian piutang atau cadangan piutang tak tertagih ini, nantinya akan dihapuskan pada saat piutang benar-benar tidak bisa tertagih. Ketidak-tertagihan piutang dibuktikan dengan fakta dan bukti yang authentic (syah) menurut hukum. Misalnya: dinyatakan oleh putusan pengadilan, atau oleh badan independent lain yang authorized. Hal ini bisa terjad apabila: perusahaan yang berhutang dinyatakan bangkrut oleh pengadilan, atau si penghutang meninggal, atau si penghutang dengan sengaja mangkir (tidak melaksanakan kewajibannya) meskipun akhirnya dia harus menebusnya dengan kurungan (penjara). Apabila satu diantara kondisi tadi terjadi, maka perusahaan sudah harus mengahpuskan cadangan piutang tak tertagihnya dengan mengkredit Account Receivable.

Writte-off dilakukan dengan memasukkan jurnal:

[Debt]. Allowance For Bad Debt (Cadangan Piutang Tak Tetagih)
[Credit]. Account Receivable

Catatan: Deangan jurnal di atas, maka account receivable akan berkurang sejumlah yang tidak tertagih dan dan cadangan kerugian piutang terhapus pun akan terhapus sejumlah yang sama.

Sampai disini, sebagian issue mengenai account receivable telah dibahas, tetapi masih menyisakan banyak pertanyaan dan topic yang perlu untuk anda ketahui, diantaranya: masalah discount, return and warranty (topic khusus), Analisa Umur Piutang (Account Receivable Aging), kemudia credit policy tak kalah pentingnya (akan menjadi satu topic), account receivable control (pengendalian piutang) juga topic yang tak ingin anda lewatkan pastinya. Yang terakhir, sebagai penutup serie saya akan bahas mengenai “How to deal with a bad debt (bagaimana menghadapi piutang tak tertagih) sebuah case study”, yang akan mengintegrasikan berbagai kajian dan strategy, akan menjadi nilai tambah baru jika anda menghadapi situasi ini. Jika anda menyukai topic ini, stay tune, sering-seringlah log-in ke sini.

Dengan kerendahan hati, saya menyadari keterbatasan saya, mungkin ada kekeliruan-kekeliruan dalam pembahasan, penulisan (error Typo, salah eja), salah hitungan, dan lain-lain. Saya terbuka terhadap koreksi yang sifatnya konstruktif tentunya. Saya sangat berharap kita bisa berbagi, bertukar pikiran dan pandangan, berdiskusi, berbagi pengalaman. Untuk itu semua, silahkan disampaikan dengan menulis komentar. Talk to you later!

13 Comments

13 Comments

  1. Ari Warokah Latif

    Jun 24, 2008 at 12:44 am

    Nice topic, jadi inget 8 tahun lalu pernah jadi bagian A/R di salah satu retail company. Apalagi dengan jumlah vendor yang banyak.

    Saat itu selain penjualan, ada yang disebut Other Income, kalau temen-temen yang jadi vendor/supplier pasti terbiasa dengan kata-kata “New Item, Listing Fee, Promotion Fee, Rabat, etc. Karena ketika vendor/supplier memasukkan produknya, otomatis terkena ‘charges’ New Item or Listing Fee.

    Dan ketika retail tsb menerima produk, biasanya melalui ‘Merchandise Dept’ yang melakukan negosiasi dan menyerahkan salinan dokumen ke Accounting (A/R) untuk dijurnal :

    [Db] Account Receivable
    [Cr] Other Income

    Ketika terjadi realisasi;

    [Db] Cash/Bank
    [Cr] Account Receivable

    Namun tidak semudah teori, dengan jumlah vendor yang mencapai ratusan bahkan ribuan dengan item produk yang bermacam-macam tentunya pasti banyak terjadi koreksi di masa depan, bahkan terjadinya Bad Debt & Write Off.

    Untuk kondisi di atas, dimana A/R menjadi sebuah sub dept. tersendiri karena penanganannya yang memerlukan kekhususan seperti halnya A/P, Cash Management, Treasury.
    Bila memungkinkan perlu sebuah sistem modul yang terintegrasi guna memudahkan user mengontrol umur piutang & manajemen memperoleh analisa guna mengambil keputusan.

    Just share, ditunggu pembahasan akuntansi tambangnya pak
    Rgds,
    awlatif@yahoo.com

  2. Putra

    Jun 24, 2008 at 8:12 am

    Originally Posted By Ari Warokah Latif
    ….Namun tidak semudah teori, dengan jumlah vendor yang mencapai ratusan bahkan ribuan dengan item produk yang bermacam-macam tentunya pasti banyak terjadi koreksi di masa depan, bahkan terjadinya Bad Debt & Write Off.

    Untuk kondisi di atas, dimana A/R menjadi sebuah sub dept. tersendiri karena penanganannya yang memerlukan kekhususan seperti halnya A/P, Cash Management, Treasury.
    Bila memungkinkan perlu sebuah sistem modul yang terintegrasi guna memudahkan user mengontrol umur piutang & manajemen memperoleh analisa guna mengambil keputusan.

    Just share, ditunggu pembahasan akuntansi tambangnya pak
    Rgds,
    awlatif@yahoo.com

    Saya setuju, memang implementasi selalu tidak semudah teori-nya ya. Untuk sementara Pendidikan di bangku sekolah kita di Indonesia baru bisa memberikan basic-nya. Belum sampai ketahap terapan yang terintegrasi. Selanjutnya akan bergantung pada diri sendiri, sebesar apa keinginan kita untuk belajar dan maju. Apakah bisa debit cerdit saja sudah cukup? apakah bisa menghitung PPh dan PPn saja sudah cukup?.

    Accounting, sangat luas dan dalam. rasanya tidak akan pernah habis untuk diexplore. Jika bisa mendalaminya, mungkin batasannya hanya “Seberapa tinggi dan jauh kita berlogika dan berimajinasi tentang accounting, dan mensyncronisasi keduanya”.

    Mengenai akuntansi tambang… saya belum sempat bahas, tapi pasti nanti saya bahas. Sementara jika mbak Ari tidak keberatan, kita sharing yang umum-umum dahulu ya mbak, siapa tahu ada hal-hal yang kita pikir sudah tahu, tetapi ternyata terlewatkan 🙂

    • noldy

      Dec 1, 2012 at 4:31 pm

      Salam,

      saya mau tanya, bagaimana membuat atau perlakuan untuk membuat neraca baru yang bersih dari tunggakan hutang dimasa lalu? sedangkan hutang lalu sudah tidak bisa tertagih lagi… terima kasih sebelumnya

  3. ferry

    Dec 12, 2008 at 4:20 am

    mohon jawaban,

    apabila kita berada di suatu perusahaan PMA, yang penjualannya produknya menggunakan mata uang asing. tentu setiap akhir periode seluruh penjualan maupun hutang harus di Adjust kenilai kurs sesuai dengan kebijakan perusahaan apakah menggunakan KURS Tengah BI atau KURS pajak. nah apabila kita mendapati suatu piutang sulit tertagih kemudian di jurnal nilai piutang tersebut dan masuk sebagai cadangan piutang tak tertagih, apakah di awal periode berikutnya nilai cadangan piutang tak tertagih tersebut harus di adjust mengikut KURS yang baru ?

  4. iqbal

    Dec 13, 2008 at 1:01 pm

    nice topik mas putra…
    saya mau nanya donk…

    1. apa di indonesia ada peraturan yg khusus untuk perlakuan piutang tak tertagih itu…..saya liat d PSAK tidak ada ya…

    2. terus kalo misalnya ada perusahaan yg dalam perlakuan piutang tak tertagih itu menggunakan metode atau cara sendiri,,,misalnya:
    dalam menentukan estimasi penyisihan piutang tak tertagih besarannya tidak berdasarkan sales ataupun balancesheet…
    tidak jg menggunakan metode persentase dari aging schedule…perusahaan menggunakan besaran dari rapat para manajemen saja…

    3. untuk penerimaan kembali piutang yg telah d hapuskan itu klo tidak memunculkan kembali akun piutang apa tidak melanggar… perusahaan menjurnal

    (debit) kas
    (kredit) pendapatan lain-lain

    mohon pencerahannya mas putra

  5. susi susanti

    Feb 20, 2009 at 1:29 am

    Bagaimana kalau piutang yang telah dihaouskan ternyata dapat dibayar kembali. Dan apa jurnalnya untuk transaksi tersebut………???????

  6. yuli

    Mar 19, 2009 at 1:37 pm

    saya kebetulan hanya mahasiswa yang mulai menyusun tugas akhir (saya sebelumnya sangat awam akan accounting) saya blank akan menulis apa, karena perusahaan tempat saya bekerja merupakan home industry yang manajemennya juga masih semrawut. apabila saya mengambil judul “tinjauan atas pembayaran piutang dari penjualan barang jadi” kira-kira hal-hal apa saja yang perlu saya tekankan/tonjolkan dalam tulisan saya? jika mekanisme pembayarannya, apakah itu tidak terlalu meluas? makasih atas pencerahannya

  7. jackha

    Mar 27, 2009 at 12:58 pm

    saya sangat tertarik sekali untuk mengikuti bahasan ini, kebetulan saya sedang menulis skripsi tentang piutang, tolong donk mas pencerahannya,,,,,,,,,oh..ya MAS,…masalah piutang diterangkan dalam PSAK NO berapa, and tahun berapa?

  8. tri emelsi

    May 14, 2009 at 3:45 am

    Pak saya mau Nanya nich….???
    Bagaimana pengakuan piutang pada perusahaan jasa transportasi?
    Terdapat pada PSAK No berapa ya?
    tolong ya pak soalnya saya lagi buat skripsi tentang piutang, sudah saya baca pada PSAK tapi tidak ada tentang pengakuan piutang?

  9. Maria

    Feb 21, 2010 at 3:33 pm

    Pak Putra, tulisannya benar2 membantu untuk selalu ingat apa saja yang perlu diketahui sebagai accounting. Saya staf Water Treatment Plant di perusahaan property/developer,Pak.

    Saat awal berjalan, Juli 08. Kita beli piutang dari Intercompany tapi berbeda PT dan gedung, FotoCopy kwitansi diserahkan ke Customer Service(CS). Nah, waktu itu kontrol terhadap pembayaran belum ada Pak, jadi di Rek koran, uang masuk berapa, tapi kwitansi sudah diserahkan ke konsumen oleh CSnya itu. Jadi untuk yang baru masuk 48.500, kwitansi 100.000,mis nya. kwitansi sudah dikasihkan.

    Saya jadi bingung menagihkan sisa yang kurang bayar ke pelanggan air di masing2 cluster(paksa CSnya urus dapatkan sisa uangnya krn piutang gantung gara2 dia), yang kwitansinya dimana jumlahnya sesuai Debit Note sudah dikasihkan ke pelanggan sebagai tanda lunas.

    kalau untuk kasus ini tidak bisa jadi bad debt ya Pak? Ada masukkan tidak Pak?
    trim’s

    Kalau seperti itu tidak bisa dijadikan Bad Debt ya Pak?

  10. Ryan

    Nov 26, 2010 at 4:12 am

    Pak kalo Writte-off dilakukan dengan memasukkan jurnal:

    [Debt]. Allowance For Bad Debt (Cadangan Piutang Tak Tetagih)
    [Credit]. Account Receivable

    Nah…bila ternyata customer berniat membayar kembali hutangnya, apa jurnalnya dibalik dari yang diatas?

    Terima kasih atas perhatiannya, tulisannya sangat membantu sekali Pak.. 🙂

  11. yusi nurika

    Dec 3, 2012 at 1:19 am

    Dh,

    Saya ingin menanyakan Perbedaan perlakuan Piutang tak tertagih antara PSAK dan IFRS apa ya?

  12. Ronald Purba

    Nov 19, 2017 at 8:12 am

    Pak mau nanya nih..
    perusahaan A sudah menghapuskan/memutihkan hutang dari perusahaan B. Tetapi 5 tahun kemudian perusahaan B datang untuk membayar hutang yg sudah diputihkan oleh perusahaan A. Kira kira itu bagaimana ya pak? Terus pencatatan bagi perusahaan A itu apa ya pak?
    Makasih pak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.




Are you looking for easy accounting tutorial? Established since 2007, Accounting-Financial-Tax.com hosts more than 1300 articles (still growing), and has helped millions accounting student, teacher, junior accountants and small business owners, worldwide.

Trending